Sumbardaily.com – PT Hakaaston (HKA) meraih dua penghargaan dalam ajang TOP GRC Awards 2026 yang digelar di Jakarta pada pertengahan September 2026. Pengakuan tersebut diberikan atas penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan atau Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang diterapkan perusahaan dalam menjalankan bisnis operasi dan pemeliharaan jalan tol.
Dalam ajang tersebut, HKA memperoleh penghargaan TOP GRC Awards 2026 #Star 4. Penghargaan lainnya diberikan secara personal kepada Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko HKA, Devita Rachmawati, melalui kategori The High Performing Compliance Director on GRC 2026.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap upaya HKA membangun tata kelola yang terintegrasi dengan kegiatan bisnis perusahaan. Bagi HKA, GRC tidak ditempatkan semata-mata sebagai mekanisme untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan, tetapi juga menjadi bagian dari kerangka kerja dalam mendukung pengambilan keputusan dan pengelolaan operasional.
TOP GRC Awards merupakan ajang yang diselenggarakan Majalah TopBusiness bersama sejumlah asosiasi dan lembaga konsultan yang bergerak di bidang tata kelola serta manajemen risiko. Pada 2026, TOP GRC Awards memasuki penyelenggaraan yang kedelapan sejak pertama kali digelar pada 2019.
Penyelenggaraan tahun ini mengangkat tema "Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC". Proses penilaian dilakukan melalui kajian terhadap materi yang disampaikan peserta serta sesi presentasi di hadapan dewan juri yang berasal dari kalangan praktisi Governance, Risk, and Compliance (GRC).
HKA mengikuti sesi wawancara penjurian pada 30 Juli 2026 sebagai bagian dari rangkaian proses penilaian dalam ajang tersebut.
Bagi perusahaan, penghargaan TOP GRC Awards 2026 menjadi pengakuan atas penerapan GRC yang dikembangkan untuk mendukung kegiatan bisnis operasi dan pemeliharaan jalan tol. Saat ini, HKA mengelola operasi dan pemeliharaan sebanyak 14 ruas jalan tol dengan total panjang lebih dari 831 kilometer.
Pengelolaan tersebut diperkuat dengan dukungan delapan unit produksi asphalt mixing plant (AMP) dan satu unit produksi pendukung operation & maintenance (O&M). Selain mengelola operasi dan pemeliharaan jalan tol, HKA juga menangani sejumlah proyek pemeliharaan jalan yang berada di wilayah Sumatra dan Jawa.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko HKA, Devita Rachmawati, mengatakan tata kelola memiliki posisi penting dalam menjaga keandalan layanan perusahaan. Hal tersebut tidak terlepas dari karakter bisnis HKA yang bersentuhan langsung dengan pengguna jalan, terutama dalam aspek keselamatan dan kenyamanan.
"Bisnis kami berhubungan langsung dengan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan, sehingga tata kelola bukan sekadar pemenuhan aturan. Kami memandang penghargaan ini sebagai umpan balik atas apa yang sudah berjalan, sekaligus pengingat bahwa masih ada ruang yang perlu terus kami perbaiki," ujar Devita dalam keterangannya dikutip Senin (21/9/2026).
Menurut Devita, penerapan GRC di HKA dirancang agar dapat berfungsi sebagai kerangka kerja yang mendukung proses pengambilan keputusan. Dengan pendekatan tersebut, fungsi GRC tidak berjalan sendiri atau terpisah dari aktivitas bisnis perusahaan.
HKA mengintegrasikan aspek tata kelola ke dalam pengelolaan operasi dan pemeliharaan. Perusahaan juga membangun tim yang solid dan terintegrasi agar kegiatan bisnis dapat berjalan secara lebih lincah.
"Kami membangun manajemen operasi dan pemeliharaan dengan tata kelola yang baik serta tim yang solid dan terintegrasi, agar perusahaan dapat bergerak lebih lincah," kata Devita.
Ia menjelaskan struktur GRC yang tertata justru dapat mendukung percepatan pengambilan keputusan. Hal tersebut dimungkinkan karena proses kajian dan telaah independen dapat dilakukan secara paralel dengan proses bisnis yang berjalan.
"Kerangka GRC yang tertata justru membantu keputusan diambil lebih cepat, karena kajian dan telaah independen berjalan secara paralel," ujarnya.
GRC Diterapkan Berlapis
Dalam penerapannya, HKA menempatkan fungsi GRC secara berlapis. Struktur tersebut mencakup tingkat Dewan Komisaris hingga unit kerja yang berada di bawah Direksi.
Perusahaan juga menggunakan model tiga lini pertahanan atau three lines model dalam proses aksi korporasi. Model tersebut menjadi bagian dari pendekatan perusahaan dalam memperkuat tata kelola sekaligus memastikan aspek risiko dan kepatuhan menjadi bagian dari proses bisnis.
Selain menerapkan model tiga lini pertahanan, HKA telah memiliki lima sertifikasi sistem manajemen. Sertifikasi tersebut mencakup berbagai aspek, yakni mutu, lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, keamanan informasi, serta anti penyuapan.
Penguatan tata kelola tersebut juga berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan yang dikembangkan HKA. Agenda tersebut disusun dalam kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG).
Dalam mendukung penerapan tata kelola dan pengelolaan risiko, HKA juga mengembangkan ekosistem digital. Sistem tersebut digunakan untuk membantu pemantauan operasi, pemeliharaan, dan risiko secara terintegrasi.
Dengan pendekatan tersebut, penerapan GRC tidak hanya ditempatkan pada aspek kebijakan dan prosedur. Prinsip tata kelola juga diarahkan agar menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan.
Di lingkungan operasional, nilai tersebut diinternalisasi melalui ikrar DMS atau Disiplin, Melayani, Selamat. Ikrar tersebut menjadi pegangan bagi karyawan HKA dalam menjalankan layanan sehari-hari di lapangan.
Penguatan tata kelola selanjutnya akan terus dilakukan HKA seiring dengan pengembangan bisnis perusahaan di bidang manajemen aset infrastruktur. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung visi HKA menjadi Indonesia's Most Valuable Infrastructure Asset Management (IM-V-IAM).
Pengembangan tersebut menempatkan tata kelola sebagai salah satu bagian yang mendukung perusahaan dalam menjalankan bisnis manajemen aset infrastruktur. Pada saat yang sama, penguatan GRC juga dikaitkan dengan agenda pemerintah melalui Asta Cita.
Khususnya, upaya tersebut sejalan dengan Asta Cita poin ketujuh yang memuat penguatan reformasi hukum serta pencegahan dan pemberantasan korupsi.
Di lingkungan badan usaha milik negara, agenda tersebut diterjemahkan melalui penerapan tata kelola yang transparan dan akuntabel. Bagi HKA, penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus mendukung pengelolaan aset infrastruktur.
Dengan diraihnya dua penghargaan pada TOP GRC Awards 2026, HKA mendapatkan pengakuan atas penerapan GRC yang telah berjalan. Namun, penghargaan tersebut juga ditempatkan sebagai umpan balik bagi perusahaan untuk terus memperbaiki penerapan tata kelola dan mengembangkannya agar tetap relevan dengan kebutuhan bisnis operasi, pemeliharaan, serta manajemen aset infrastruktur. (*)
















