Cerita Kopi Bantjah Padang Punya Banyak Olahan, dari Minuman hingga Lilin Aromaterapi

Cerita Kopi Bantjah Padang Punya Banyak Olahan, dari Minuman hingga Lilin Aromaterapi

Kopi Bantjah dan produk olahannya berupa lilin aromaterapi. (Foto: Humas PT Semen Padang)

Sumbardaily.com – Kopi Bantjah yang dikembangkan masyarakat Koto Baru, Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mulai merambah usaha pengolahan produk turunan. Tidak hanya dijual sebagai hasil perkebunan, kopi lokal ini kini diolah menjadi cookies, minuman kopi, selai, teh cascara, hingga lilin aromaterapi yang membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Pengembangan tersebut melibatkan 10 perempuan yang berasal dari RW 5 dan RW 6 Koto Baru. Mereka terlibat dalam proses pengolahan berbagai produk berbahan kopi setelah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan yang didukung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Semen Padang.

Diversifikasi produk ini menjadi salah satu upaya masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi Kopi Bantjah. Selama ini, kegiatan usaha kopi lebih banyak bertumpu pada aktivitas budidaya, pengolahan hasil panen, dan penjualan komoditas. Melalui pengembangan produk turunan, masyarakat mulai menjajaki peluang usaha dari proses pengolahan bahan baku menjadi produk yang memiliki karakter dan sasaran konsumen berbeda.

Salah seorang penggerak pengembangan produk turunan Kopi Bantjah, Milawati, mengatakan pelatihan yang difasilitasi PT Semen Padang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mempelajari berbagai cara pemanfaatan kopi. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan secara bertahap dengan mencoba menghasilkan beragam produk.

“Untuk produk turunan Kopi Bantjah ada cookies, minuman kopi, lilin aromaterapi dari kopi, teh khas cascara dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan, selai kopi, dan dua jenis kue yang juga sedang kami kembangkan,” ujar Milawati, dikutip Senin (12/10/2026).

Ragam produk tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan Kopi Bantjah tidak lagi terbatas pada bahan baku minuman kopi. Masyarakat juga mulai mengembangkan produk makanan dan kerajinan berbahan kopi yang dapat menjadi alternatif kegiatan usaha.

Meski begitu, pengembangan produk turunan Kopi Bantjah masih berada pada tahap awal. Pemasarannya untuk sementara masih menjangkau wilayah Kota Padang. Salah satu cara yang dilakukan untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat adalah mengikuti kegiatan bazar.

Langkah tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi kelompok pengolah untuk mengenalkan hasil produksi dan melihat respons calon konsumen. Dengan jangkauan pasar yang masih terbatas, pemasaran dilakukan secara bertahap seiring proses pengembangan produk.

“Untuk sementara masih sekitar Kota Padang. Karena produk turunannya masih baru kami buat, kemarin baru kami bawa ke bazar-bazar,” katanya.

Bagi masyarakat Koto Baru, pengembangan produk turunan tidak hanya berkaitan dengan upaya memperluas pilihan produk berbahan kopi. Kegiatan ini juga membuka ruang bagi warga yang sebelumnya tidak terlibat langsung dalam usaha perkebunan untuk mengambil bagian dalam rantai ekonomi komoditas tersebut.

Milawati menyebut perempuan yang tinggal di sekitar kawasan pengembangan Kopi Bantjah menjadi salah satu kelompok yang didorong untuk terlibat. Saat ini, sekitar 10 perempuan dari RW 5 dan RW 6 telah aktif dalam kegiatan pengolahan produk turunan kopi.

“Kami berusaha memberdayakan ibu-ibu yang berada di sekitar Koto Baru, terutama di RW 5 dan 6. Yang aktif sekitar 10 orang. Mereka kami berdayakan untuk mengolah produk turunan kopi,” tuturnya.

Keterlibatan perempuan tersebut memperluas aktivitas ekonomi yang tumbuh dari komoditas kopi. Jika sebelumnya peran masyarakat lebih banyak terlihat pada kegiatan budidaya dan penyediaan bahan baku, kini pengolahan produk menjadi ruang partisipasi baru bagi warga di lingkungan Koto Baru.

Pengembangan ini juga didukung peningkatan keterampilan melalui pelatihan. Sebanyak lima warga mengikuti pelatihan pengolahan produk turunan kopi di Royal Asia Hotel. Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari berbagai kemungkinan pemanfaatan kopi, termasuk bagian buah yang belum banyak diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Milawati mengatakan dukungan PT Semen Padang menjadi salah satu faktor yang membantu masyarakat memperoleh pengetahuan untuk mulai mengembangkan produk turunan. Pelatihan tersebut memberikan gambaran mengenai jenis produk yang dapat dibuat dari komoditas kopi sekaligus menjadi bekal untuk melakukan pengembangan secara bertahap.

“Kami sangat banyak mendapatkan dukungan dari PT Semen Padang. Kami diikutkan pelatihan di Royal Asia Hotel. Ada lima orang yang mengikuti pelatihan produk turunan ini. Kami mendapatkan beberapa jenis produk yang bisa dibuat dari turunan kopi, sehingga sekarang mulai kami kembangkan sedikit demi sedikit,” katanya.

Salah satu produk yang dikembangkan adalah cascara. Produk ini berupa minuman seduhan yang dibuat dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan. Pemanfaatan bagian buah tersebut membuka peluang untuk mengolah bahan yang berpotensi menjadi limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Selain cascara, masyarakat juga mengembangkan lilin aromaterapi berbahan kopi. Produk tersebut memperlihatkan perluasan pemanfaatan Kopi Bantjah ke sektor kreatif di luar makanan dan minuman. Sementara itu, cookies, selai kopi, minuman kopi, dan aneka kue menjadi bagian dari upaya memperbanyak pilihan produk yang dapat ditawarkan kepada konsumen.

Pengembangan produk turunan masih dilakukan secara bertahap. Masyarakat perlu melanjutkan proses pengolahan sekaligus memperkenalkan hasil produksi kepada pasar. Keikutsertaan dalam bazar menjadi salah satu langkah awal untuk memperluas pengenalan produk di tengah keterbatasan jangkauan pemasaran saat ini.

Generasi Muda Dilibatkan Lewat Pelatihan Barista

Pemberdayaan melalui pengembangan Kopi Bantjah tidak hanya menyasar perempuan yang terlibat dalam pengolahan produk. Generasi muda juga mulai dilibatkan melalui pelatihan barista agar mereka mempunyai kesempatan mengambil peran dalam pengembangan komoditas kopi lokal.

Pelatihan tersebut diarahkan untuk memperluas keterlibatan anak muda dalam aktivitas yang berkaitan dengan kopi, termasuk pengolahan dan penyajian. Dengan melibatkan generasi muda, pengembangan Kopi Bantjah diharapkan tidak hanya bertumpu pada petani dan kelompok pengolah, tetapi juga dapat menjangkau kalangan yang memiliki minat pada dunia kopi.

Milawati mengatakan pelibatan generasi muda menjadi bagian dari upaya agar pengembangan Kopi Bantjah dapat diikuti berbagai kelompok masyarakat.

“Untuk Gen Z, kami juga sudah memasukkan mereka dalam pelatihan barista. Jadi semua kalangan kami usahakan untuk terlibat dalam Kopi Bantjah ini,” ujar Milawati.

Keterlibatan tersebut melengkapi pengembangan produk turunan yang sedang dilakukan masyarakat. Di satu sisi, perempuan memperoleh ruang untuk terlibat dalam pengolahan makanan, minuman, dan produk kreatif berbahan kopi. Di sisi lain, generasi muda mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan barista.

Upaya tersebut memperluas pendekatan pengembangan Kopi Bantjah dari kegiatan perkebunan menjadi aktivitas ekonomi yang melibatkan beragam keterampilan. Namun, pengembangan produk dan pemasaran masih dilakukan secara bertahap, dengan pasar yang saat ini berfokus di Kota Padang.

Kopi Bantjah Didukung 36 Petani

Pengembangan produk turunan di sisi hilir berjalan berdampingan dengan penguatan kelompok petani sebagai penyedia bahan baku. Kelompok Petani Kopi Bantjah telah memperoleh pendampingan PT Semen Padang sejak 2023 untuk mengembangkan potensi kopi di Koto Baru.

Ketua Kelompok Petani Kopi Bantjah, Yulisman, mengatakan dukungan perusahaan memberikan kesempatan kepada kelompok untuk mengembangkan komoditas kopi sekaligus menyampaikan kebutuhan masyarakat dalam menjalankan kegiatan usaha.

“PT Semen Padang secara konsisten mendukung pengembangan Kopi Bantjah. Kami juga mulai memberikan dampak bagi masyarakat sehingga terus mendapatkan bantuan dan dukungan,” ujar Yulisman.

Menurut Yulisman, pendampingan terhadap kelompok petani tidak terlepas dari posisi Koto Baru yang berada di kawasan Ring 1 PT Semen Padang. Dukungan yang berlangsung sejak 2023 tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat potensi ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Kelompok Kopi Bantjah saat ini memiliki 36 petani yang telah terdata. Dari jumlah tersebut, sekitar 31 orang masih aktif mengembangkan komoditas kopi. Data kelompok tersebut menggambarkan keterlibatan petani dalam mempertahankan dan mengembangkan usaha perkebunan kopi di Koto Baru.

Selain jumlah petani, luas lahan juga menjadi salah satu gambaran potensi produksi kelompok. Pendataan yang pernah dilakukan bersama PT Semen Padang dan tenaga ahli dari Solok Radjo mencatat luas lahan Kopi Bantjah mencapai sekitar 29 hektare.

Meski memiliki lahan yang mencapai puluhan hektare, produksi kelompok petani saat ini masih berada pada kisaran satu ton buah kopi merah atau cherry per tahun. Setelah melalui proses pengolahan menjadi green bean atau biji kopi hijau, jumlahnya diperkirakan sekitar 200 kilogram.

Perbedaan volume tersebut menggambarkan jumlah hasil yang tersedia setelah buah kopi diolah menjadi biji kopi hijau. Dengan kapasitas produksi yang masih terbatas, pengembangan produk turunan menjadi salah satu pendekatan yang ditempuh masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil perkebunan.

Pengembangan di sisi hilir juga membuka kesempatan untuk memanfaatkan kopi dalam berbagai bentuk produk. Selain menjual hasil panen, kelompok masyarakat mulai menjajaki pengolahan bahan baku menjadi makanan, minuman, serta produk kreatif yang dapat dipasarkan kepada konsumen.

Melalui pendekatan tersebut, pengembangan Kopi Bantjah melibatkan dua sisi kegiatan ekonomi. Sektor hulu bertumpu pada petani dan budidaya kopi, sedangkan sektor hilir mulai berkembang melalui pengolahan produk, pelatihan keterampilan, serta pemasaran di tingkat lokal. (*)

Baca Juga

Wali Kota Padang Fadly Amran bersama owner Al Harris Umrah Harris Seswitra menggunting pita saat Grand Opening Al Harris Umrah, Oleh-oleh Umrah & Coffee.
Potensi Ekonomi Umrah di Padang Tembus Rp1 Triliun Lebih, Ini Hitung-hitungannya
UMKM Padang Berkembang, Bazar Kuliner Terjangkau Hingga Alokasi Anggaran Rp566 Miliar
UMKM Padang Berkembang, Bazar Kuliner Terjangkau Hingga Alokasi Anggaran Rp566 Miliar
Kemenhut Catat 60 Hotspot di Sumsel, Riau Nihil dan Jambi Tinggal 1 Titik
Kemenhut Catat 60 Hotspot di Sumsel, Riau Nihil dan Jambi Tinggal 1 Titik
Wajib Belajar 13 Tahun, Bunda PAUD Padang Panjang Tekankan Pentingnya Pendampingan Orang Tua
Wajib Belajar 13 Tahun, Bunda PAUD Padang Panjang Tekankan Pentingnya Pendampingan Orang Tua
27 Pejabat Pemko Padang Bergeser, Ini Daftar Lengkap Mutasi Jabatan Administrator hingga Eselon II
27 Pejabat Pemko Padang Bergeser, Ini Daftar Lengkap Mutasi Jabatan Administrator hingga Eselon II
Bakaua di Solok, Tradisi Minangkabau Penuh Makna di Balik RSBG 2026
Bakaua di Solok, Tradisi Minangkabau Penuh Makna di Balik RSBG 2026