Beda Tekanan Timnas dan Klub, Deni Sulton Akui Beratnya Mengurus Semen Padang FC

Beda Tekanan Timnas dan Klub, Deni Sulton Akui Beratnya Mengurus Semen Padang FC

General Manager (GM) PT Kabau Sirah Semen Padang, Deni Sulton. (Foto: Ig Deni Sulton)

Sumbardaily.com - General Manager (GM) PT Kabau Sirah Semen Padang, Deni Sulton, mengungkapkan beratnya tanggung jawab yang dijalani selama mengelola Semen Padang FC.

Dalam pengalamannya, tekanan mengurus klub sepak bola profesional terasa lebih berat dibandingkan saat dirinya menangani berbagai urusan Timnas Indonesia karena beban pekerjaan klub terus berjalan sepanjang musim tanpa jeda yang berarti.

Pengalaman tersebut dibagikan Deni melalui tulisan di blog pribadinya yang dipublikasikan pada 15 Oktober 2026. Dalam tulisannya, ia menceritakan pergulatan menghadapi tekanan pekerjaan, persoalan internal, tuntutan profesionalisme, hingga kekhawatiran terhadap target Semen Padang FC untuk kembali ke Liga 1.

Deni mengakui, menjalankan tanggung jawab sebagai GM bukan perkara mudah. Posisi tersebut membuatnya harus terus belajar, mulai dari persoalan operasional hingga cara mengambil sikap ketika menghadapi berbagai masalah yang datang bersamaan.

"Gue nggak tau apa gue yang terlalu naif, atau memang tanggung jawab ini luar biasa berat buat gue jalanin," tulis Deni dalam blog pribadinya, dikutip Sabtu (17/10/2026) dari dennyshulton.com.

Ia menggambarkan adanya pergulatan antara keyakinan untuk mampu menjalankan tugas dan perasaan lelah yang muncul ketika hari berganti malam. Setiap pagi, Deni berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia siap menghadapi tanggung jawab tersebut. Namun, ketika suasana mulai sepi, muncul pula saat-saat ketika ia merasa hampir menyerah.

Menurut Deni, pekerjaannya tidak hanya berkaitan dengan urusan teknis sepak bola. Berbagai persoalan, intrik, serta tekanan dari banyak arah menuntutnya untuk tetap menjaga sikap dan tidak terbawa kepanikan. Ia harus mengambil keputusan penting, terutama ketika klub berada dalam situasi sulit.

Keputusan yang dibuat pada masa krisis, lanjutnya, dapat menimbulkan dampak berantai terhadap keberlangsungan klub. Karena itu, ia merasa harus mempertimbangkan setiap langkah dengan cermat, sekalipun situasi yang dihadapi menuntut penyelesaian dalam waktu singkat.

Tekanan Mengurus Klub Lebih Berat daripada Timnas

Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam tulisan Deni adalah perbandingan antara pengalamannya mengurus Timnas Indonesia dan tanggung jawabnya sekarang di Semen Padang FC.

Deni menilai, pekerjaan yang berkaitan dengan Timnas memiliki periode tertentu. Baik ketika menangani administrasi maupun mendampingi tim, terdapat agenda atau kegiatan yang berlangsung dalam rentang waktu tertentu, kemudian disusul masa jeda.

Situasinya berbeda ketika mengelola klub profesional. Menurut dia, pekerjaan harus terus berjalan dari pekan ke pekan dan bulan ke bulan selama kompetisi berlangsung. Berbagai urusan tetap menuntut perhatian, terlepas dari hasil pertandingan maupun kondisi pribadi orang yang bertanggung jawab.

"Pernah di suatu titik gue sampai mikir, ternyata pressure di Timnas dulu belum ada apa-apanya dibanding ngurus klub seperti ini," tulisnya.

Ia kemudian menjelaskan perbedaan mendasar dari kedua pengalaman tersebut.

"Karena di Timnas, baik saat mengurus administrasi maupun mendampingi tim, itu ada periodenya. Ada event, lalu ada jeda istirahat. Sedangkan di klub? Every week, every month, tekanannya konsisten berjalan tanpa jeda," lanjut Deni.

Bagi Deni, kesempatan untuk benar-benar menghela napas mungkin baru datang ketika musim berakhir. Sementara itu, roda pekerjaan di Semen Padang FC masih terus bergerak cepat dan menuntut kesiapan setiap saat.

Situasi tersebut membuatnya harus mencari cara untuk mengelola tekanan. Ia berusaha berdiskusi dengan berbagai pihak, mencari pandangan baru, serta sesekali melakukan hal yang dapat membantu mengurangi beban pikiran.

Namun, ia menyadari bahwa dirinya kerap terlalu keras terhadap diri sendiri. Waktu istirahat sering kali tersisih karena pikirannya terus memikirkan pekerjaan yang belum selesai maupun persoalan yang berpotensi muncul berikutnya.

Di tengah jadwal yang padat, ia bahkan mengaku kerap bertanya-tanya mengenai masalah apa lagi yang akan datang. Meski demikian, Deni merasa tanggung jawab yang telah diambilnya harus dituntaskan.

Kekhawatiran Gagal Membawa Semen Padang FC Kembali ke Liga 1

Tekanan yang dirasakan Deni juga berkaitan dengan hasil pertandingan dan target klub. Ketika peluit panjang dibunyikan, tetapi hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan, muncul perasaan gagal yang sulit dihindari.

Salah satu kekhawatiran terbesarnya adalah kemungkinan Semen Padang FC tidak berhasil kembali ke kompetisi Liga 1, yang disebutnya sebagai habitat asli klub tersebut.

Bayangan kegagalan itu, menurut Deni, kerap menghantui pikirannya. Apalagi, ekspektasi suporter dan masyarakat terhadap tim tidak selalu dapat dipisahkan dari tanggung jawab yang dijalankannya sebagai bagian dari manajemen.

Meski demikian, ia berusaha mengingatkan diri bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya. Ia tidak dapat mengatur pikiran maupun ekspektasi ribuan orang di luar klub.

Hal yang masih dapat dilakukan adalah memastikan pekerjaan manajerial berjalan dengan benar, membenahi sistem, dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia juga berharap mendapatkan perlindungan serta rida Allah dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Bagi Deni, upaya untuk tetap bekerja secara benar menjadi pegangan ketika tekanan mulai terasa berat. Ia berusaha menjaga ketenangan agar persoalan yang dihadapi tidak membuatnya kehilangan arah.

Tanggung Jawab GM Tak Hanya Mengurus Tim Senior

Deni turut meluruskan bahwa jabatan yang diembannya bukan sebatas GM tim sepak bola Semen Padang FC. Ia bertanggung jawab sebagai GM PT Kabau Sirah Semen Padang, perusahaan yang menaungi klub tersebut.

Artinya, cakupan pekerjaannya menjangkau berbagai bidang, mulai dari pengelolaan tim senior yang berkompetisi di Liga 2, operasional kantor di Jakarta dan Padang, urusan kepanitiaan pertandingan dan homebase, hingga pembinaan pemain usia muda melalui Elite Pro Academy (EPA) U-18 dan U-20.

Seluruh kebutuhan tersebut harus dikelola agar kegiatan klub dapat berjalan sesuai rencana. Pada saat bersamaan, Deni juga menghadapi persoalan operasional harian yang menyita waktu dan energi.

Salah satu tantangannya adalah mengatur logistik perjalanan puluhan anggota tim dari satu kota ke kota lain dalam waktu yang terbatas. Perpindahan itu dapat menjangkau wilayah yang jauh, mulai dari ujung Aceh hingga Tasikmalaya.

Pengaturan perjalanan menjadi salah satu pekerjaan yang harus diselesaikan di tengah agenda klub yang padat. Ketika urusan logistik belum selesai, persoalan lain juga tetap membutuhkan perhatian.

Deni menyebut dirinya harus menangani proses club licensing, restrukturisasi organisasi, serta mengawasi arus uang masuk dan keluar perusahaan. Ia juga bertanggung jawab membenahi kewajiban finansial dan utang perusahaan melalui skema penyelesaian yang terukur.

Pada aspek regulasi, ia terkadang harus kembali mempelajari ketentuan FIFA yang mengatur status, kontrak, dan registrasi pemain. Berbagai urusan tersebut membuat tanggung jawab GM mencakup aspek administratif, finansial, organisasi, dan operasional sekaligus.

Deni menegaskan pentingnya membangun sistem kerja yang profesional. Menurutnya, meskipun ada banyak persoalan internal yang tidak dapat disampaikan kepada publik, pengelolaan klub tetap harus berlandaskan transparansi dan akuntabilitas.

Ia menyadari tidak seluruh dinamika di balik layar dapat dibuka kepada masyarakat. Ada batasan yang perlu dijaga agar persoalan internal tidak serta-merta menjadi konsumsi publik.

Namun, ia ingin memastikan sistem operasional berjalan dengan prinsip zero error. Setiap keputusan berat yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara korporat maupun moral.

Mengakui Masih Harus Belajar Mengendalikan Emosi

Di tengah tanggung jawab yang luas, Deni mengakui masih perlu banyak belajar, terutama dalam mengendalikan emosi dan ego. Ia menyebut terkadang masih bereaksi secara berlebihan ketika menghadapi situasi tertentu.

Pada awalnya, ia membayangkan dapat membangun sistem kerja yang santai, nyaman, dan menyenangkan. Namun, kenyataan di lapangan ternyata jauh lebih kompleks karena adanya intrik, benturan kepentingan, serta persoalan yang seolah tidak pernah habis.

Kondisi itu membuatnya kembali mempertanyakan kemampuan diri. Dalam salah satu perenungannya, ia bertanya apakah tekanan yang dirasakan sudah mencapai batas kemampuannya dan mengapa ia kembali berada dalam fase mempertanyakan kapasitas diri.

Melalui tulisannya, Deni mengatakan ingin membagikan sedikit pengalaman tentang kehidupan di balik pengelolaan klub profesional. Ia menegaskan bahwa cerita tersebut bukan untuk meminta dukungan tambahan ataupun sekadar mengeluhkan pekerjaannya.

Baginya, jabatan GM di klub sepak bola profesional merupakan pengalaman baru sekaligus pelajaran terbesar dan ujian terberat dalam hidupnya sejauh ini.

Ketika kondisi fisik dan mental terasa mendekati batas, Deni berusaha menguatkan dirinya dengan keyakinan bahwa Allah tidak memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Ia juga berupaya mengingatkan dirinya agar tidak menyerah ketika berhadapan dengan situasi sulit.

Di sisi lain, ia menyadari bahwa tuntutan pekerjaan terkadang membuatnya mengabaikan kebutuhan tubuh sendiri. Pertanyaan tentang seberapa besar kecintaannya terhadap sepak bola pun muncul ketika ia melihat betapa keras dirinya menjalani tanggung jawab tersebut.

Meski begitu, Deni tidak ingin memilih jalan untuk melarikan diri dari tugas yang sudah diterimanya. Ia mempertanyakan apakah dirinya harus menyerah ketika orang lain mampu melewati kesulitan serupa.

Pada akhirnya, ia menegaskan keinginannya untuk tetap bertahan dan menyelesaikan tanggung jawab yang telah dimulai. Baginya, tantangan mengelola Semen Padang FC bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga kemampuan membangun sistem, menjaga profesionalisme, dan bertahan menghadapi tekanan yang datang tanpa jeda sepanjang musim. (*)

Baca Juga

Pengakuan Jujur GM Semen Padang FC Deni Sulton: Di Balik Layar Kebanggaan Ada Momen Ingin Menyerah
Pengakuan Jujur GM Semen Padang FC Deni Sulton: Di Balik Layar Kebanggaan Ada Momen Ingin Menyerah
Semen Padang FC Dibayangi Kekalahan Beruntun, Teco Siapkan Strategi Hadapi PSMS Medan
Semen Padang FC Dibayangi Kekalahan Beruntun, Teco Siapkan Strategi Hadapi PSMS Medan
Savio Bisa Absen Lawan PSMS? Manajemen Semen Padang FC Buka Suara
Savio Bisa Absen Lawan PSMS? Manajemen Semen Padang FC Buka Suara
Dua Kali Kalah Beruntun, Semen Padang FC Wajib Bangkit Saat Hadapi PSMS Medan
Dua Kali Kalah Beruntun, Semen Padang FC Wajib Bangkit Saat Hadapi PSMS Medan
Conveyor Belt PT Semen Padang Terbakar, Penyebab Masih Diselidiki
Conveyor Belt PT Semen Padang Terbakar, Penyebab Masih Diselidiki
Modal Kalahkan Semen Padang FC, Dafa Al Gasemi Siap Kawal Gawang Persikad Lawan Sumsel United
Modal Kalahkan Semen Padang FC, Dafa Al Gasemi Siap Kawal Gawang Persikad Lawan Sumsel United