Sumbardaily.com, Agam – Ancaman banjir bandang kembali menghantui Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) pada Minggu (7/12/2025), setelah hujan deras sejak siang hingga sore hari meningkatkan debit dan kekeruhan Sungai Salareh Aia.
Kondisi ini memicu ketakutan warga yang belum pulih dari trauma bencana sebelumnya, sekaligus mengganggu aktivitas bantuan di wilayah itu.
Curah hujan intens yang mengguyur kawasan tersebut membuat aliran sungai tiba-tiba membesar dan berubah keruh dalam waktu singkat. Situasi ini segera menciptakan kepanikan, tidak hanya bagi masyarakat Palembayan yang baru selamat dari bencana beberapa waktu lalu, tetapi juga warga Sumbar dan pendatang dari luar daerah yang kebetulan berada di lokasi.
Banyak di antara mereka menyaksikan dengan cemas bagaimana perubahan arus sungai memunculkan lagi kenangan kelam yang belum sepenuhnya hilang.
Kecemasan itu turut dirasakan petugas yang tengah bekerja membersihkan sisa-sisa material pascabencana. Dwi Putra, anggota Polda Sumbar yang sedang bertugas, menyaksikan sendiri bagaimana kepanikan warga pecah di tengah situasi yang berubah cepat.
“Tadi warga teriak air besar, lari,” ujarnya, menggambarkan spontanitas warga ketika melihat air sungai meningkat tajam dan mengancam permukiman.
Situasi darurat tersebut berimbas langsung pada kegiatan penanganan bencana yang sedang berlangsung. Petugas yang semula menerapkan sistem buka-tutup jalan untuk membersihkan puing rumah terdampak kini dihadapkan pada dua ancaman sekaligus: derasnya arus sungai dan potensi longsor susulan.
Risiko tambahan ini membuat banyak tim di lapangan harus memperlambat atau menghentikan aktivitas demi keselamatan.
Kondisi kritis itu juga mengganggu upaya distribusi bantuan. Yus (58), relawan dari Kota Padang yang membawa logistik bersama kelompoknya, memutuskan untuk menghentikan perjalanan setelah beberapa kali mencoba mencari jalur aman menuju lokasi.
“Pindah, pindah, cuaca kurang bagus,” ungkapnya, menjelaskan alasan mundurnya rombongan relawan akibat risiko tinggi yang mereka hadapi di jalan.
Banyak kelompok bantuan lain juga mengambil keputusan serupa. Situasi di Palembayan yang masih dipenuhi potensi bahaya membuat jalur logistik kembali tidak stabil dan rawan terputus sewaktu-waktu.
Banjir susulan yang terjadi menjadi pengingat bahwa wilayah tersebut masih jauh dari kondisi aman, menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh pihak serta pembatasan aktivitas non-esensial di zona rawan bencana.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Palembayan masih berada dalam fase kritis pemulihan dan perlu perhatian serius untuk memastikan keselamatan warga serta kelancaran jalur bantuan. (red)
















