Sumbardaily.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera masih menjadi perhatian Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
Meski jumlah titik panas atau hotspot secara nasional mengalami penurunan, operasi pemadaman dan pemeriksaan lapangan tetap dilanjutkan, terutama di Sumatera Selatan yang mencatat 64 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut hingga Senin (19/10/2026) pukul 21.00 WIB, jumlah hotspot kategori high confidence di seluruh Indonesia mencapai 487 titik. Angka itu berkurang 617 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.104 titik.
Di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, jumlah hotspot juga turun dari 748 menjadi 172 titik. Penurunan tersebut mencapai 576 titik.
Sumatera Selatan mencatat 64 hotspot, disusul Kalimantan Tengah dengan 49 titik, Kalimantan Selatan 40 titik, Kalimantan Barat 12 titik, dan Jambi tujuh titik. Sementara itu, Riau tidak mencatat hotspot kategori high confidence.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menjadi narasumber dalam keterangan mengenai perkembangan penanganan karhutla tersebut. Kemenhut menegaskan bahwa penurunan jumlah titik panas tidak serta-merta menandakan seluruh kebakaran telah tertangani.
"Penurunan hotspot menjadi perkembangan yang perlu terus dijaga. Namun, pekerjaan belum selesai hanya karena jumlah titik panas berkurang."
Kemenhut menyatakan operasi darat dan udara, verifikasi lapangan, pembasahan, serta pendinginan terus dilakukan untuk memastikan api dan bara benar-benar terkendali. (Catatan redaksi: kutipan ini berasal dari draf yang diberikan dan tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai ucapan verbatim Ristianto Pribadi. Konfirmasi diperlukan sebelum mengatribusikannya sebagai kutipan langsung narasumber.)
Pemadaman Karhutla Berlanjut di Sumatera Selatan
Di Sumatera Selatan, petugas masih menangani kebakaran di sejumlah wilayah, yakni Muara Enim, Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Beberapa lokasi yang terbakar merupakan lahan gambut dengan karakteristik kebakaran bawah permukaan sehingga memerlukan pemadaman lanjutan.
Di Ogan Komering Ilir, Manggala Agni bersama TNI, regu pemadam perusahaan, dan masyarakat melakukan pemadaman langsung. Penanganan dilakukan dengan membagi sektor berdasarkan kepala api dan sisi api. Petugas juga membuat sekat untuk memutus penjalaran kebakaran.
Operasi di lapangan menghadapi sejumlah kendala, termasuk asap tebal dan angin kencang yang berubah arah. Kondisi tersebut membuat petugas harus tetap waspada selama proses pemadaman berlangsung.
Kemenhut menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Oleh sebab itu, jumlah titik panas tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
Setiap indikasi kebakaran harus diverifikasi melalui groundcheck atau pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Jambi Masih Melakukan Pemadaman dan Pendinginan
Di Jambi, Manggala Agni masih melakukan pemadaman serta pemeriksaan lapangan di Sarolangun, Batang Hari, dan Tanjung Jabung Timur. Upaya tersebut tetap dilakukan meskipun jumlah hotspot turun menjadi tujuh titik.
Di Sarolangun, petugas melakukan pemadaman langsung, penyekatan kepala api, pelebaran sekat bakar, serta pendinginan menggunakan peralatan mekanis dan suplai air. Pada salah satu lokasi, api berhasil dipadamkan. Namun, penanganan di lokasi lainnya masih harus dilanjutkan.
Petugas juga menangani kebakaran di lahan gambut dengan memadamkan titik api dan menyekat kepala api. Kanal di sekitar lokasi dimanfaatkan sebagai sumber air untuk mendukung operasi. Hingga sore hari, kondisi di lokasi tersebut masih membutuhkan penanganan lanjutan.
Kebakaran di lahan gambut menjadi perhatian karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun api di atasnya sudah tidak terlihat. Karena itu, pembasahan dan pendinginan perlu dilakukan sampai lokasi dinyatakan aman dari potensi penyalaan kembali.
Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat Catat Penurunan
Di luar Sumatera, Kalimantan Tengah mencatat penurunan hotspot menjadi 49 titik. Kendati demikian, petugas tetap melakukan pemadaman di Kotawaringin Barat, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Sukamara, dan Barito Selatan.
Sejumlah titik berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran permukaan dan bawah permukaan masih ditemukan di beberapa lokasi gambut. Petugas melanjutkan pemadaman dan pembasahan untuk mencegah api kembali menyala.
Kalimantan Barat juga mengalami penurunan jumlah hotspot menjadi 12 titik. Operasi penanganan tetap berlangsung, termasuk di salah satu lokasi di Kabupaten Ketapang yang apinya telah berhasil dikendalikan.
Sementara itu, Kalimantan Selatan justru mencatat peningkatan menjadi 40 hotspot. Penanganan dilakukan antara lain di Suaka Margasatwa Pelaihari serta sejumlah lokasi di Tanah Laut dan Banjarbaru. Beberapa titik berhasil dikendalikan melalui pemadaman darat, termasuk di kawasan bergambut. Pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali api.
Pemerintah Siagakan 61 Armada Udara
Untuk mendukung pengendalian karhutla secara nasional, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca, sedangkan 44 unit lainnya disiapkan untuk operasi water bombing atau pengeboman air.
Di darat, Manggala Agni Kemenhut bekerja sama dengan BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.
Kegiatan penanganan mencakup patroli, groundcheck, pemadaman langsung, pemutusan kepala dan sisi api, penyekatan penjalaran, pembasahan, penyisiran bara atau mopping up, serta pendinginan.
Khusus di lahan gambut, petugas tidak menghentikan penanganan hanya karena nyala api di permukaan telah hilang. Bara yang tertinggal di bawah tanah masih dapat menjalar dan memicu kebakaran kembali.
Kualitas Udara di Sumatera Perlu Diperhatikan
Selain pemadaman, kualitas udara juga menjadi perhatian dalam penanganan karhutla. Berdasarkan pemantauan berbasis PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang.
Namun, sejumlah wilayah masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Secara lokal, terdapat pula daerah dengan kategori berbahaya, terutama di beberapa bagian Kalimantan serta sejumlah wilayah Sumatera dan Papua.
Penurunan jumlah hotspot tidak selalu langsung diikuti perbaikan kualitas udara. Asap dari kebakaran, khususnya di lahan gambut, dapat bertahan dan bergerak mengikuti kondisi atmosfer meskipun jumlah titik panas telah berkurang.
Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan kualitas udara memburuk diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus.
Kemenhut juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Informasi mengenai karhutla dapat dilaporkan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan.
Penanganan karhutla akan terus dilakukan hingga api dan bara benar-benar padam, sumber asap berkurang, kualitas udara pulih, kawasan terlindungi, serta masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman. (*)















