Sumbardaily.com - Deteksi titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Sumatera kembali meningkat di tengah upaya pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sumatera Selatan mencatat 122 hotspot, sedangkan Jambi mengalami kenaikan dari 9 menjadi 31 titik.
Secara nasional, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 799 titik berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan hingga Kamis (15/10/2026) pukul 21.00 WIB.
Kenaikan tersebut terjadi ketika Kementerian Kehutanan juga menyampaikan duka atas meninggalnya empat orang yang terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, pada Kamis (15/10). Dua orang lainnya mengalami luka bakar serius dan masih mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Kementerian Kehutanan menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat mengenai tingginya risiko yang dihadapi petugas dalam operasi pemadaman karhutla. Selain memperkuat penanganan kebakaran di berbagai daerah, pemerintah menekankan pentingnya keselamatan personel yang bertugas di lapangan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menyampaikan penghormatan kepada para petugas dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya empat orang yang terlibat dalam upaya pemadaman karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pengabdian dan keberanian para petugas, relawan, masyarakat, serta seluruh unsur yang berada di garis depan pengendalian karhutla patut mendapatkan penghormatan," demikian pernyataan Kementerian Kehutanan yang disampaikan melalui Ristianto Pribadi, dikutip Sabtu (16/10/2026).
Kementerian Kehutanan turut menyampaikan simpati kepada keluarga korban serta para korban luka yang masih menjalani perawatan. Peristiwa tersebut juga menjadi dasar pengingat agar setiap operasi pemadaman mempertimbangkan kondisi lapangan secara menyeluruh.
Menurut Kementerian Kehutanan, keselamatan personel perlu menjadi prioritas, mulai dari membaca perkembangan api dan arah angin, memastikan jalur evakuasi tersedia, menjaga komunikasi antarpersonel, hingga menilai situasi sebelum dan selama operasi berlangsung.
Hotspot Sumatera Selatan dan Jambi Meningkat
Berdasarkan data pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Indonesia mencapai 799 titik hingga Kamis (15/10/2026) pukul 21.00 WIB.
Angka tersebut bertambah 427 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 372 hotspot. Kenaikan secara nasional ini menunjukkan perlunya penguatan pemantauan dan penanganan di wilayah yang terindikasi mengalami peningkatan aktivitas panas.
Pada enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla, terdeteksi 615 hotspot. Sumatera Selatan dan Jambi termasuk daerah yang mencatat peningkatan jumlah titik panas.
Sumatera Selatan memiliki 122 hotspot, meningkat dari 91 titik pada hari sebelumnya. Sementara itu, Jambi mencatat 31 titik, bertambah dari sebelumnya 9 titik.
Di wilayah Kalimantan, Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Jumlahnya mencapai 389 titik, naik dari 130 titik pada hari sebelumnya.
Kalimantan Barat justru mencatat penurunan dari 59 menjadi 42 titik. Adapun Kalimantan Selatan mengalami kenaikan dari 5 menjadi 31 titik.
Berbeda dari sejumlah provinsi tersebut, Riau tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Jumlahnya tetap nihil berdasarkan pemantauan yang disampaikan Kementerian Kehutanan.
Kenaikan terbesar berdasarkan jumlah titik terjadi di Kalimantan Tengah. Karena itu, penguatan operasi lapangan terus dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan langsung atau groundcheck, kondisi api, karakteristik lahan, ketersediaan sumber air, akses menuju lokasi, serta keselamatan personel.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa hotspot tidak bisa langsung dianggap sebagai jumlah kejadian kebakaran. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi hotspot. Dengan demikian, banyaknya titik panas tidak secara otomatis menggambarkan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.
Setiap indikasi yang terdeteksi tetap perlu diverifikasi melalui pemeriksaan di lapangan. Hasil verifikasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebutuhan dan langkah penanganan kebakaran.
Menhut Cek Penanganan Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting
Di tengah peningkatan hotspot nasional, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin meninjau langsung penanganan karhutla di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Kamis (15/10).
Penanganan di kawasan taman nasional tersebut difokuskan pada sejumlah lokasi prioritas yang sebelumnya telah diidentifikasi menggunakan drone termal. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian ialah Pesalat karena letaknya berdekatan dengan zona inti taman nasional dan wilayah penting bagi orangutan.
Hasil peninjauan turut mendorong upaya memperbaiki akses menuju titik pemadaman. Pemerintah menyiapkan pembukaan jalur darat sebagai alternatif perjalanan melalui sungai yang sangat bergantung pada kondisi pasang dan surut.
Dengan tersedianya akses darat, mobilisasi personel, peralatan, dan logistik diharapkan dapat berlangsung lebih cepat. Langkah tersebut menjadi penting untuk mendukung operasi pemadaman di lokasi yang membutuhkan penanganan intensif.
Pemerintah juga memperkuat ketersediaan air melalui pembangunan sumur bor di jalur menuju lokasi prioritas. Dengan demikian, sumber air dapat ditempatkan lebih dekat dengan titik operasi pemadaman.
Upaya tersebut terutama dibutuhkan untuk menangani kebakaran di lahan gambut. Pada jenis lahan ini, pemadaman tidak cukup dilakukan dengan menghilangkan api yang terlihat di permukaan. Pembasahan harus dilakukan secara intensif sampai bara di bawah permukaan benar-benar terkendali.
Menteri Kehutanan juga menekankan perlunya kerja sama antara pemerintah, TNI, Polri, masyarakat, dan relawan. Seluruh unsur tersebut diharapkan bergerak secara terkoordinasi untuk menangani titik-titik kebakaran yang masih membutuhkan penanganan.
Dukungan dari udara juga disesuaikan dengan kondisi lapangan. Untuk Kalimantan Tengah, pemerintah mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca pada 15-16 Oktober 2026.
Penerbangan operasi tersebut dilakukan dari Banjarmasin. Hal ini karena kondisi jarak pandang di Palangka Raya dan Pangkalan Bun belum memungkinkan operasi dilaksanakan dari kedua lokasi tersebut.
Pemadaman Darat dan Udara Terus Dilakukan
Kementerian Kehutanan bersama berbagai instansi dan unsur masyarakat terus menjalankan operasi pengendalian karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bekerja bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, pengelola kawasan konservasi, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta pihak terkait lainnya.
Kegiatan yang dilakukan meliputi patroli, pemeriksaan hotspot di lapangan, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan lahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan.
Rangkaian tindakan tersebut diperlukan untuk memastikan api tidak kembali menyala setelah pemadaman awal dilakukan. Penanganan secara berkelanjutan menjadi perhatian khusus ketika kebakaran terjadi di kawasan gambut.
Pada kebakaran gambut, api yang tidak lagi terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran telah sepenuhnya padam. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan terus menjalar tanpa terlihat secara langsung.
Karena itu, petugas perlu melanjutkan pembasahan dan pendinginan sampai lokasi dinilai aman dari potensi penyalaan kembali. Pemeriksaan berulang juga dibutuhkan untuk memastikan tidak ada bara yang masih aktif di area terdampak.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari operasi pengendalian karhutla, terutama ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya peningkatan hotspot di sejumlah wilayah.
Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Perlu Diwaspadai
Selain menangani titik panas dan kebakaran, pemerintah juga memantau kondisi kualitas udara di berbagai daerah. Berdasarkan pemantauan berbasis PM2,5, sebagian wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang.
Meski demikian, kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat masih terlihat di sejumlah lokasi di Sumatera dan Kalimantan serta beberapa wilayah lainnya. Bahkan, terdapat lokasi yang mengalami kondisi udara berbahaya secara lokal.
Situasi tersebut membuat masyarakat diminta terus mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kondisi udara memburuk, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Jika aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, penggunaan masker juga dianjurkan. Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok yang lebih rentan terhadap dampak penurunan kualitas udara.
Kelompok tersebut meliputi anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit kronis. Pembatasan aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan polutan.
Pemantauan kualitas udara perlu dilakukan seiring dengan pengendalian kebakaran, mengingat dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lahan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Masyarakat Diminta Tidak Mengevakuasi Satwa Liar Sendiri
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan pentingnya perlindungan satwa liar dalam penanganan dampak karhutla. Kebakaran dapat menyebabkan satwa terluka, terjebak, terdampak api, atau masuk ke kawasan permukiman.
Masyarakat yang menemukan satwa liar dalam kondisi tersebut diminta tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri. Warga diimbau menjaga jarak dari satwa untuk menghindari risiko yang dapat membahayakan manusia maupun hewan.
Apabila memungkinkan, masyarakat dapat mencatat lokasi penemuan serta kondisi satwa. Informasi tersebut kemudian perlu segera dilaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA), Balai Taman Nasional, atau petugas kehutanan terdekat.
Pelaporan kepada petugas diperlukan agar penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur. Dengan demikian, keselamatan masyarakat tetap terjaga dan satwa liar yang terdampak kebakaran dapat memperoleh penanganan yang sesuai.
Peningkatan hotspot di Sumatera dan Kalimantan menjadi salah satu perhatian dalam upaya pengendalian karhutla nasional. Di tengah operasi pemadaman yang terus berlangsung, Kementerian Kehutanan menekankan pentingnya verifikasi lapangan, koordinasi lintas instansi, perlindungan masyarakat dan satwa, serta keselamatan seluruh personel yang bertugas.
Kementerian juga mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh pemadaman api yang terlihat, tetapi juga oleh kemampuan memastikan bara di bawah permukaan tidak kembali memicu kebakaran. (*)
















