Sumbardaily.com – Masa remaja kerap digambarkan sebagai periode storm and stress, yakni fase penuh gejolak emosi, luapan amarah, dan rasa cemas. Namun, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan perubahan biologis saat pubertas. Lingkungan budaya tempat remaja tumbuh juga turut membentuk cara mereka menjalani masa transisi menuju kedewasaan.
Dosen Antropologi Fakultas ISIP Universitas Andalas (Unand), Dr. Noviy Hasanah, menyoroti pentingnya mengembalikan rumah dan sekolah sebagai ruang transisi budaya bagi remaja. Menurutnya, remaja perempuan saat ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks, mulai dari ekspektasi digital, standar kecantikan media sosial, hingga tekanan pencapaian akademis.
Bagi remaja perempuan, masa menuju kedewasaan dapat terasa seperti meniti tali tipis di atas jurang. Di satu sisi terdapat perubahan dalam diri, sedangkan di sisi lain terdapat berbagai tuntutan dari lingkungan sosial dan dunia digital.
Rasa lelah dan stres bahkan dapat dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima ketika memasuki masa pubertas. Namun, Noviy menilai gejolak batin remaja tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan biologis.
“Masalah utamanya bukanlah gejolak hormon estrogen di dalam tubuh mereka, melainkan ekosistem budaya modern yang makin asing dan gagal menyediakan ruang aman bagi mereka untuk bertumbuh,” kata Noviy dilansir dari Kepakaran Unand, Kamis (1/10/2026).
Belajar dari Remaja di Samoa
Perspektif mengenai hubungan antara budaya dan pengalaman masa remaja dapat dilihat dari penelitian antropolog Margaret Mead di Samoa pada 1925. Penelitian tersebut kemudian dituangkan dalam karya Coming of Age in Samoa yang terbit pada 1928.
Melalui penelitian lapangan tersebut, Mead melihat pengalaman gadis-gadis remaja di Kepulauan Manu'a yang berbeda dari gambaran remaja dalam perspektif psikologi Barat pada masa itu.
Gadis-gadis remaja Samoa disebut menjalani masa pubertas dengan tenang dan riang serta jauh dari depresi. Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan bagaimana masyarakat setempat mengelola masa transisi menuju kedewasaan.
Mead menyimpulkan bahwa gejolak stres pada remaja sangat bergantung pada cara masyarakat mengelola transisi tersebut.
Di Samoa, struktur sosial disebut terasa longgar. Pembagian peran dilakukan secara adil dan tidak terdapat rentetan tuntutan hidup yang saling berbenturan.
Budaya Samoa juga tidak memaksa anak-anak belasan tahun untuk segera menentukan identitas yang rumit. Mereka diberikan waktu untuk tumbuh secara natural mengikuti ritme komunitas.
Perspektif tersebut menunjukkan bahwa pengalaman masa remaja tidak dapat dilepaskan begitu saja dari lingkungan budaya yang membentuknya.
Dunia Digital dan Hilangnya Ruang Aman
Kondisi tersebut berbeda dengan situasi yang dihadapi remaja perempuan saat ini. Mereka tumbuh di tengah lanskap budaya yang kompetitif dan bising.
Dalam sudut pandang antropologi, proses enkulturasi merupakan cara seseorang menyerap nilai, norma, dan kebiasaan dari lingkungan sekitarnya. Proses ini disebut mengalami guncangan ketika ruang sosial tempat remaja belajar mengenai kehidupan mengalami perubahan besar.
Jika dahulu proses belajar mengenai kehidupan berlangsung secara alami melalui percakapan di meja makan dan ruang keluarga, kini gawai dan algoritma media sosial turut mengambil alih peran tersebut.
Remaja berhadapan dengan berbagai nilai yang muncul secara instan di layar. Di antaranya standar kesuksesan yang dipamerkan di media sosial, glorifikasi fisik yang nyaris sempurna, hingga kebiasaan mengukur harga diri berdasarkan jumlah likes dan komentar.
Ketika standar tersebut masuk ke dalam diri remaja dan kemudian berbenturan dengan realitas kehidupan sehari-hari, persoalan baru dapat muncul.
Rasa rendah diri, depresi, dan kebingungan mencari jati diri dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut. Karena itu, lingkungan budaya modern dinilai perlu menjadi perhatian dalam memahami pengalaman remaja.
Rumah Harus Jadi Tempat Bernapas
Menghadapi derasnya arus enkulturasi digital, proses sosialisasi dasar dinilai perlu dikembalikan kepada keluarga.
Rumah tidak semestinya berubah menjadi ruang lain yang penuh tekanan. Sebaliknya, rumah perlu menjadi tempat aman bagi anak untuk tumbuh dan belajar memahami kehidupan.
“Rumah tidak boleh ikut-ikutan menjadi arena ujian yang dingin, melainkan harus kembali menjadi tempat bernapas,” ujar Noviy.
Dalam ajaran Islam, peran keluarga sebagai fondasi pertama disebut ditegaskan melalui Al-Qur'an Surah Al-Furqan ayat 74. Ayat tersebut memuat doa agar keturunan menjadi qurrota a'yun, yakni penyejuk mata atau penyenang hati, serta orang tua menjadi imam bagi orang-orang bertakwa.
Dalam konteks tersebut, kata “pemimpin” tidak dimaknai sebagai sosok penguasa yang hanya bertugas mengatur. Orang tua juga menjadi teladan hidup yang memberikan rasa aman dan ketenangan batin bagi anak.
“Kata ‘pemimpin’ di sini bukan berarti sosok penguasa yang hanya bisa mengatur, melainkan teladan hidup yang memberi rasa aman dan ketenangan batin,” katanya.
Pengasuhan Remaja Putri dalam Budaya Minangkabau
Nilai keteladanan tersebut juga berkaitan dengan kearifan lokal budaya Minangkabau.
Dalam adat Minang, remaja putri ditempatkan pada posisi gadih rang gadang di bawah naungan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Anak gadis dibimbing melalui kelembutan rasa oleh ibu dan para Bundo Kanduang. Pola pengasuhan tersebut tidak mengandalkan bentakan atau paksaan, tetapi komunikasi yang halus dan sarat makna.
Hal itu tergambar dalam ungkapan: “Remaja putri bak bungo kambang, rancak di aromanyo, tapalihara dalam raso jo pareso.”
Anak perempuan diibaratkan sebagai bunga yang sedang mekar. Keindahannya terpelihara bukan karena dikurung, melainkan dijaga melalui raso jo pareso, yakni rasa empati, kesopanan, dan kontrol diri.
Ketika orang tua memberikan keteladanan, kebijaksanaan, dan keteguhan mental di rumah, anak dapat menyerap model kebudayaan yang sehat tersebut sebagai benteng alami dari berbagai pengaruh buruk.
Sekolah Bukan Sekadar Tempat Mengejar Nilai
Selain rumah, sekolah memiliki posisi penting dalam proses transisi budaya dan sosialisasi sekunder seorang remaja.
Sejak pagi hingga sore, lebih dari separuh waktu remaja dihabiskan di sekolah. Karena itu, apabila rumah menjadi tempat pulang pertama, sekolah diharapkan dapat menjadi tempat pulang kedua.
Namun, sekolah yang hanya berorientasi pada pencapaian akademis berpotensi menjadi ruang yang dingin. Anak-anak dapat merasa diadu satu sama lain dan dihargai berdasarkan angka yang diperoleh di atas kertas.
Ketika harga diri siswa hanya ditakar melalui pencapaian akademis, beban psikologis yang telah mereka hadapi dari lingkungan lain dapat semakin berat.
Karena itu, terdapat sejumlah langkah yang perlu dilakukan sekolah.
Pertama, menata ulang suasana belajar. Budaya sekolah perlu diubah dari lingkungan persaingan yang saling menjatuhkan menjadi ruang belajar yang saling merangkul, inklusif, dan saling menghargai.
Kedua, menghadirkan guru yang mau mendengar. Guru tidak hanya bertugas memaparkan materi pelajaran di kelas. Guru juga diharapkan hadir sebagai sosok dewasa yang bersedia mendengarkan dan memahami gejolak perasaan siswa.
“Guru tidak hanya memaparkan materi pelajaran di kelas, tetapi hadir sebagai sosok dewasa yang mau mendengarkan, memahami gejolak perasaan siswa, dan memberi ruang aman saat mereka merasa lelah,” katanya.
Ketiga, berjalan sejajar dengan orang tua. Sekolah perlu duduk bersama dengan para orang tua untuk menyamakan sudut pandang mengenai pengasuhan.
“Sekolah perlu ‘duduk bersama’ dengan para orang tua, menyamakan sudut pandang pengasuhan agar tidak menumpukkan beban ekspektasi yang terlalu berat di pundak anak,” ujar Noviy.
Budaya Berperan dalam Masa Transisi Remaja
Menyikapi rasa cemas dan stres pada remaja perempuan, perubahan hormon pubertas tidak semestinya menjadi satu-satunya aspek yang diperhatikan.
Pengalaman yang dikemukakan Margaret Mead melalui penelitian di Samoa menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat berperan dalam proses transisi remaja. Cara masyarakat mengelola tuntutan, pembagian peran, serta proses menuju kedewasaan menjadi bagian dari lingkungan yang dihadapi anak.
“Menyembuhkan rasa cemas dan stres pada remaja perempuan hari ini tidak bisa dilakukan hanya dengan menyalahkan perubahan hormon pubertas,” kata Noviy.
Ia menilai kebudayaan yang dibangun bersama memiliki kekuatan untuk membentuk pengalaman remaja.
“Kebudayaan yang kita ciptakan bersama punya kekuatan besar: apakah ingin menjinakkan gejolak tersebut atau justru makin memperkeruhnya?” katanya.
Karena itu, rumah dan sekolah dapat menjadi dua ruang penting dalam membantu remaja melewati masa transisi tersebut. Rumah yang memberikan nilai dan keteladanan dapat dipadukan dengan lingkungan sekolah yang memanusiakan siswa.
“Sentuhan hangat orang tua di rumah yang sarat akan nilai dan keteladanan, dipadu dengan lingkungan sekolah yang memanusiakan manusia, akan menjadi perisai yang amat kokoh,” ujar Noviy.
Ketika rumah kembali menjadi tempat berlabuh yang penuh kasih dan sekolah menjadi ruang tumbuh yang menenangkan, masa remaja diharapkan dapat menjadi fase menuju kedewasaan yang tenang, tangguh, dan penuh rasa percaya diri. (*)
















