Bachtiar Chamsyah Wafat, Mengenal Mantan Mensos yang Juga Ayah Wakil Bupati Agam

Bachtiar Chamsyah Wafat, Mengenal Mantan Mensos yang Juga Ayah Wakil Bupati Agam

Pemerintah Kabupaten Agam menyampaikan kabar duka atas meninggalnya H. Bachtiar Chamsyah, Menteri Sosial Republik Indonesia periode 2001-2009. Bachtiar Chamsyah meninggal dunia pada Kamis, 24 September 2026. (Foto: Pemkab Agam)

Sumbardaily.com - Pemerintah Kabupaten Agam menyampaikan kabar duka atas meninggalnya H. Bachtiar Chamsyah, Menteri Sosial Republik Indonesia periode 2001-2009. Bachtiar Chamsyah meninggal dunia pada Kamis, 24 September 2026.

Kabar tersebut disampaikan Pemerintah Kabupaten Agam melalui keterangan resmi yang dikutip Sabtu (26/9/2026).

Dalam pernyataannya, Pemkab Agam menyampaikan ucapan duka cita mendalam atas berpulangnya Bachtiar Chamsyah ke Rahmatullah.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."

Bachtiar Chamsyah diketahui merupakan ayahanda H. Muhammad Iqbal, S.E., M.Com., yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Agam.

Pemkab Agam turut mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Selain itu, doa juga disampaikan agar seluruh khilaf dan dosa almarhum diampuni serta amal ibadahnya diterima.

"Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala khilaf dan dosanya, diterima seluruh amal ibadahnya," demikian keterangan Pemkab Agam.

Ucapan duka juga ditujukan kepada keluarga yang ditinggalkan, terutama Muhammad Iqbal beserta keluarga. Pemkab Agam mendoakan agar keluarga diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi kepergian Bachtiar Chamsyah.

"Selamat jalan, Bapak H. Bachtiar Chamsyah. Semoga husnul khatimah."

Profil Bachtiar Chamsyah

Bachtiar Chamsyah merupakan salah satu politikus senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia juga dikenal dengan gelar Datuak Marajo Nan Sati.

Bachtiar lahir di Tiji, Sigli, Aceh, pada 31 Desember 1945. Meski lahir dan tumbuh di Aceh, ia berasal dari keluarga berdarah Minangkabau yang memiliki asal-usul dari Bayua, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Keluarganya merupakan perantau yang kemudian menetap di Aceh.

Sejak usia muda, Bachtiar telah aktif mengikuti berbagai organisasi. Ia pernah terlibat dalam Kepanduan Hizbul Wathan. Aktivitasnya kemudian berkembang ke organisasi mahasiswa Islam hingga dunia politik.

Riwayat pendidikan Bachtiar dimulai dari SD Negeri Kutacane. Ia menyelesaikan pendidikan dasar tersebut pada 1957. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri Medan dan lulus pada 1961.

Pendidikan menengah atas ditempuhnya di SMA Negeri Maninjau hingga lulus pada 1964. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Bachtiar melanjutkan pendidikan ke Akademi Administrasi Niaga (AAN) Negeri Medan pada 1966-1970.

Ia kemudian mengambil Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas HKBP Nommensen. Pendidikan tersebut dijalani hingga tingkat V, tetapi Bachtiar tidak dapat menyelesaikannya karena kendala keuangan.

Bachtiar selanjutnya kembali menempuh pendidikan tinggi. Ia berhasil memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Fakultas Ekonomi Universitas Medan Area pada 1997.

Aktif di Organisasi Mahasiswa

Ketertarikan Bachtiar terhadap organisasi semakin berkembang ketika dirinya menjadi mahasiswa di AAN Negeri Medan. Pada 1966, ia tercatat sebagai anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Komisariat AAN Negeri Medan.

Setahun kemudian, Bachtiar dipercaya menjadi Ketua Komisariat HMI AAN Negeri Medan. Aktivitasnya di organisasi mahasiswa terus berkembang hingga ia dipercaya memimpin HMI Cabang Medan.

Pada 1969, Bachtiar menjadi Ketua Umum HMI Cabang Medan. Beberapa tahun kemudian, pada 1976, ia menjabat sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi HMI Sumatra Utara.

Sebelumnya, pada 1971, Bachtiar juga pernah menduduki posisi sebagai Wakil Ketua Muslimin Indonesia Sumatra Utara.

Kiprah Bachtiar tidak berhenti pada organisasi mahasiswa. Ia aktif di Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi). Dalam organisasi tersebut, Bachtiar tercatat pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Parmusi pada 1999-2002.

Pada 2002, ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum Parmusi. Di lingkungan PPP, Bachtiar juga pernah mengemban sejumlah posisi, termasuk Ketua DPW PPP Sumatra Utara dan Wakil Sekjen DPP PPP.

Dari Pegawai Honorer hingga Legislator

Sebelum dikenal sebagai politikus dan pejabat negara, Bachtiar sempat menjalani kehidupan sebagai pegawai sekaligus guru.

Pada 1974, ia mulai bekerja sebagai pegawai harian honorer Pemerintah Kota Medan. Penghasilan yang diterimanya saat itu disebut hanya sekitar Rp1.000 per bulan.

Jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan hidup. Bachtiar kemudian mencari penghasilan tambahan dengan mengajar.

Pada 1978-1980, ia mengajar di SMA Perguruan Amir Hamzah Medan. Mata pelajaran yang diajarkannya antara lain ekonomi dan sejarah.

Bachtiar akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai honorer pada 1981. Setelah itu, ia bergabung dengan PPP dan mulai memasuki perjalanan politik yang membawanya ke lembaga legislatif.

Setahun kemudian, ketika berusia sekitar 37 tahun, Bachtiar terpilih menjadi anggota DPRD Tingkat I Sumatra Utara untuk periode 1982-1987.

Keterpilihan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Bachtiar di lembaga legislatif. Dari sana, kiprahnya di dunia politik terus berkembang hingga kemudian mengemban berbagai jabatan di organisasi politik dan pemerintahan.

Pada 1984, Bachtiar juga sempat terpilih sebagai Ketua DPW PPP Sumatra Utara dalam Musyawarah Wilayah PPP.

Dalam musyawarah tersebut, Bachtiar bersama Ridwan Rahmat terpilih untuk memimpin DPW PPP Sumatra Utara. Namun, kepemimpinan tersebut tidak mendapatkan persetujuan dari pemerintah maupun DPP PPP.

Atas keputusan tersebut, Bachtiar kemudian harus menerima hasil yang ditetapkan.

Perjalanan panjang Bachtiar Chamsyah di organisasi, politik, legislatif, hingga pemerintahan kemudian mengantarkannya menjadi Menteri Sosial Republik Indonesia pada periode 2001-2009.

Kini, Pemerintah Kabupaten Agam menyampaikan penghormatan dan doa atas wafatnya Bachtiar Chamsyah. Kepergiannya juga menjadi duka bagi keluarga, termasuk Muhammad Iqbal yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Agam.

Pemkab Agam berharap almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. (*)

Baca Juga

El Nino Sangat Kuat, BMKG Prediksi Musim Hujan 2026-2027 Datang Terlambat
El Nino Sangat Kuat, BMKG Prediksi Musim Hujan 2026-2027 Datang Terlambat
Dekat Secara Wilayah, Pemko Padang Bantu Air Bersih Warga Solok yang Terdampak Galodo
Dekat Secara Wilayah, Pemko Padang Bantu Air Bersih Warga Solok yang Terdampak Galodo
Basarnas Tetap Siaga usai Operasi SAR Solok Ditutup, Bisa Dibuka Lagi Jika Ada Laporan Warga Hilang
Basarnas Tetap Siaga usai Operasi SAR Solok Ditutup, Bisa Dibuka Lagi Jika Ada Laporan Warga Hilang
Syarat Pendidikan Wapres Gibran Digugat ke MK, KPU Ungkap 3 Alasan Menolak
Syarat Pendidikan Wapres Gibran Digugat ke MK, KPU Ungkap 3 Alasan Menolak
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Solok.
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Bantu Korban Galodo Solok, Sembako hingga Kebutuhan Ibu dan Anak Disalurkan
Tim SAR gabungan melanjutkan pencarian korban banjir bandang Arosuka Kabupaten Solok pada hari keempat dengan membagi area operasi sepanjang sekitar 14 kilometer ke dalam empat sektor.
Hari Keempat Pasca Banjir Bandang Solok, Tim SAR Gabungan Sisir Area Pencarian Sejauh 14 Kilometer