Hampir 20 Tahun Teliti Penyu, Dosen Bung Hatta Ungkap Tantangan Konservasi di Mentawai

Hampir 20 Tahun Teliti Penyu, Dosen Bung Hatta Ungkap Tantangan Konservasi di Mentawai

Dosen Program Studi Magister Sumberdaya Perairan, Pesisir dan Kelautan (SP2K), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta, Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc., memaparkan penelitian mengenai tingkat kerentanan habitat peneluran penyu terhadap perkembangan aktivitas pariwisata. (Foto: UBH)

Sumbardaily.com - Riset mengenai keberlangsungan habitat penyu di Kepulauan Mentawai menjadi perhatian dalam Seminar Internasional Wacana Ilmu Serumpun di Malaysia.

Dosen Program Studi Magister Sumberdaya Perairan, Pesisir dan Kelautan (SP2K), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta, Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc., memaparkan penelitian mengenai tingkat kerentanan habitat peneluran penyu terhadap perkembangan aktivitas pariwisata.

Penelitian tersebut dipresentasikan dalam Seminar Internasional Wacana Ilmu Serumpun yang digelar di Fakulti Alam Bina, Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Malaysia, pada 20-21 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi bagian dari penguatan hubungan akademik antara Universiti Teknologi MARA (UiTM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Bung Hatta.

Dalam forum itu, Dr. Harfiandri Damanhuri membawa penelitian berjudul "Spatial Ecological Analysis of Sea Turtle Nesting Habitat Vulnerability to Tourism Activities in the Mentawai Island". Kajian tersebut menyoroti kondisi habitat peneluran penyu dengan pendekatan spasial dan ekologis, terutama di tengah perkembangan kegiatan wisata bahari di Kepulauan Mentawai.

Penelitian itu tidak dikerjakan secara individual. Riset melibatkan Dr. Suparno dari bidang Biologi Laut dan Dr. Era Triana dari bidang Perencanaan Wilayah dan Kota. Pelaksanaan penelitian memperoleh dukungan pendanaan melalui hibah internal Direktorat Riset dan Inovasi, PKM dan Kemitraan Universitas Bung Hatta Tahun 2026.

Seminar Internasional Wacana Ilmu Serumpun mempertemukan akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari sejumlah institusi. Forum tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan hasil penelitian sekaligus membangun jejaring kerja sama akademik lintas negara dan lintas disiplin ilmu.

Kegiatan dibuka Prof. Sr. Dr. Zulfilee Abdul Latif selaku Wakil Dekan Bidang Penyelidikan dan Jaringan Industri. Peserta seminar terdiri atas mahasiswa UiTM, mahasiswa Pascasarjana SP2K Universitas Bung Hatta, peneliti BRIN yang dikoordinasikan Prof. Taslim Arifin, M.Si., dari Pusat Riset Ekologi dan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, serta dosen dari Fakulti Alam Bina UiTM.

Dalam pemaparannya, Dr. Harfiandri Damanhuri menjelaskan penelitian tersebut menggambarkan lokasi pendaratan dan peneluran penyu serta ancaman yang muncul seiring berkembangnya kegiatan wisata bahari.

Wilayah penelitian diarahkan pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Daerah tersebut memiliki sekitar 99 pulau dan berhadapan langsung dengan perairan Samudra Hindia.

"Data yang digunakan dalam penelitian merupakan bagian dari hasil pengamatan dan penelitian konservasi penyu di perairan Sumatera Barat yang telah dihimpun secara berkelanjutan selama hampir dua dekade. Untuk penelitian tahun 2026, kajian secara khusus diarahkan pada gugusan pulau-pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai kawasan yang memiliki karakteristik ekologis penting sekaligus menghadapi perkembangan aktivitas wisata," jelasnya.

Lamanya proses pengumpulan data menjadi salah satu bagian penting dalam riset tersebut. Penelitian konservasi penyu yang dilakukan Dr. Harfiandri Damanhuri telah berlangsung hampir 20 tahun. Dalam seminar tersebut, salah satu dosen UiTM kemudian menanyakan bagaimana jejaring penelitian dibangun dan sumber pendanaan diperoleh agar penelitian konservasi penyu dapat terus berjalan.

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan keberlangsungan riset yang telah dilakukan sejak 1999. Menjawab hal itu, Dr. Harfiandri menjelaskan bahwa penelitian dikembangkan melalui penyusunan road map penelitian jangka panjang.

Kolaborasi juga dilakukan bersama sejumlah dosen dan peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta. Selain tenaga pengajar dan peneliti, mahasiswa program sarjana serta magister dilibatkan dalam berbagai tahapan penelitian.

"Keberlanjutan riset tersebut didukung oleh berbagai sumber pendanaan, mulai dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, lembaga riset, program hibah penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bung Hatta, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sponsor, hingga berbagai mitra lainnya," sebutnya.

Jejak penelitian Dr. Harfiandri terhadap penyu bahkan telah dimulai jauh sebelum kajian di Mentawai. Riset tersebut dirintis pada 1999 dengan lokasi awal penelitian di Pulau Penyu, Kabupaten Pesisir Selatan.

Seiring waktu, cakupan penelitian berkembang ke sejumlah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Kajian juga menyentuh komunitas masyarakat pesisir yang memiliki hubungan dengan pemanfaatan maupun eksploitasi telur dan daging penyu.

Rangkaian penelitian itu tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Hasil riset kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk hilirisasi yang memberikan dampak bagi masyarakat. Salah satunya ditandai dengan terbentuknya Pusat Konservasi Penyu di Pulau Karabak Ketek, Kabupaten Pesisir Selatan.

Pengembangan pusat konservasi juga dilakukan di Kota Pariaman melalui Pusat Konservasi Penyu. Program tersebut berjalan melalui kerja sama dan dukungan pemerintah daerah di masing-masing wilayah.

Di Kota Pariaman, salah satu hasil hilirisasi penelitian terlihat dari pengembangan UPT Konservasi Penyu Kota Pariaman yang berada di Desa Apar. Kawasan tersebut kemudian berkembang sebagai bagian dari atraksi wisata edukasi sekaligus konservasi.

Kawasan konservasi penyu di Desa Apar tercatat telah didatangi wisatawan internasional dari lebih dari 85 negara. Keberadaan kawasan tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi sekitar 200 pelaku UMKM di wilayah sekitarnya.

Pengembangan konservasi penyu turut memberikan dampak pada aspek sosial dan lingkungan. Upaya tersebut mendorong peningkatan kesadaran mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Dampaknya antara lain terlihat dari bertambahnya kawasan ekosistem mangrove serta pengembangan taman terumbu karang di pulau-pulau kecil yang berada di dalam kawasan konservasi laut Kota Pariaman.

Riset yang dipresentasikan dalam seminar di Malaysia tersebut sekaligus memperlihatkan perjalanan panjang penelitian penyu yang dilakukan Universitas Bung Hatta. Dari penelitian awal di Pesisir Selatan sejak 1999, kajian kemudian berkembang hingga kawasan Kepulauan Mentawai dengan pendekatan spasial dan ekologis.

Partisipasi Dr. Harfiandri Damanhuri dalam Seminar Internasional Wacana Ilmu Serumpun juga menjadi bagian dari kontribusi Universitas Bung Hatta dalam pengembangan penelitian kelautan dan konservasi melalui kerja sama internasional.

Pertemuan akademik tersebut membuka ruang untuk memperkuat jejaring penelitian antara Indonesia dan Malaysia. Kerja sama itu diarahkan untuk menghadapi tantangan keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut melalui kolaborasi antarlembaga dan lintas disiplin ilmu.

Kegiatan tersebut juga berkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam aspek pendidikan, kegiatan mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pembelajaran dan keterlibatan mahasiswa dalam penelitian.

Dari sisi kelautan, penelitian konservasi penyu dan perlindungan ekosistem pesisir berkaitan dengan SDG 14: Ekosistem Lautan. Sementara itu, keterlibatan Universitas Bung Hatta, UiTM, BRIN, pemerintah daerah, serta berbagai mitra penelitian sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan demikian, riset Dosen Program Studi Magister Sumberdaya Perairan, Pesisir dan Kelautan (SP2K), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta, Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc., tidak hanya membahas kondisi habitat penyu di Kepulauan Mentawai.

Penelitian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang konservasi penyu yang telah dimulai sejak 1999 dan terus dikembangkan melalui kolaborasi, pelibatan mahasiswa, pendanaan dari berbagai pihak, serta hilirisasi yang berdampak pada masyarakat dan lingkungan pesisir. (*)

Baca Juga

Sungai Batang Siat Menghitam, DLH Sumbar dan Dharmasraya Cek IPAL 2 PKS
Sungai Batang Siat Menghitam, DLH Sumbar dan Dharmasraya Cek IPAL 2 PKS
DPRD Pasaman Barat Sahkan Perubahan APBD 2026, Total Anggaran Capai Rp1,41 Triliun
DPRD Pasaman Barat Sahkan Perubahan APBD 2026, Total Anggaran Capai Rp1,41 Triliun
Bantuan Pangan 3 Bulan Disalurkan di Padang Panjang, 6.017 Keluarga Terima Beras
Bantuan Pangan 3 Bulan Disalurkan di Padang Panjang, 6.017 Keluarga Terima Beras
Tim SAR gabungan mengevakuasi mayat yang ditemukan warga di wilayah Sungai Bangek, Kota Padang.
Identitas Mayat di Sungai Bangek Padang Terungkap, Ternyata Warga Air Dingin
Wisatawan Ramai Unggah Hidden Gem Sumbar, InJourney Airports BIM Dorong Service Excellence Berbasis Budaya
Wisatawan Ramai Unggah Hidden Gem Sumbar, InJourney Airports BIM Dorong Service Excellence Berbasis Budaya
Perubahan APBD Bukittinggi 2026 Disepakati Rp876,71 Miliar, Pendapatan Naik Rp138,62 Miliar
Perubahan APBD Bukittinggi 2026 Disepakati Rp876,71 Miliar, Pendapatan Naik Rp138,62 Miliar