Sumbardaily.com - Operasi pencarian dan pertolongan terhadap kapal nelayan KM Halim Wijaya yang mengalami mati mesin di sekitar Pulau Angso Duo, Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), berlangsung di tengah kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Hujan dan gelombang laut hingga 2,5 meter menjadi tantangan bagi Kantor SAR Padang dalam menjangkau lokasi kapal.
Kapal berukuran panjang 17 meter dengan warna merah biru tersebut diketahui membawa dua orang saat berlayar dari Sasak, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) menuju kawasan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang. Kapal kemudian mengalami mati mesin ketika berada di perjalanan.
Kepala Kantor SAR Padang sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC) Padang, Abdul Malik mengatakan, operasi SAR kecelakaan kapal tersebut setelah adanya informasi dari pemilik KM Halim Wijaya, Medri, pada Rabu (5/8/2026) pukul 22.02 WIB.
Berdasarkan laporan tersebut, posisi kejadian diperkirakan berada pada koordinat 0°42'46,56"S - 100°6'10.52"T. Lokasi pencarian berjarak sekitar 25,70 nautical mile (Nm) dalam garis lurus dari KN Yudistira, dengan radial 316,65 derajat ke arah barat laut.
"Dua orang yang berada di atas KM Halim Wijaya masing-masing bernama Ali (60) dan Sapriadi (45)," kata Malik.
Peristiwa tersebut, katanya, bermula pada Rabu (5/8/2026). Sekitar pukul 10.00 WIB, KM Halim Wijaya yang membawa dua orang berangkat dari Sasak, Pasaman Barat, dengan tujuan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang.
Perjalanan kapal berlangsung hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, kapal mengalami mati mesin. Kondisi tersebut membuat perjalanan menuju Bungus Teluk Kabung terhenti.
"Upaya perbaikan sempat dilakukan oleh anak buah kapal (ABK). Hingga pukul 20.10 WIB, ABK masih berusaha memperbaiki mesin kapal yang mengalami gangguan. Namun, upaya tersebut tidak berhasil membuat mesin kembali berfungsi," katanya.
Situasi itu kemudian dilaporkan kepada pemilik kapal. Pada pukul 21.00 WIB, Ali yang merupakan ABK KM Halim Wijaya memberitahukan kondisi kapal kepada Medri selaku pemilik kapal.
"Setelah menerima informasi tersebut, Medri kemudian melaporkan kejadian kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Padang. Laporan tersebut menjadi dasar dilaksanakannya operasi pencarian dan pertolongan terhadap KM Halim Wijaya," katanya.
Kantor SAR Padang kemudian mengerahkan KN Yudistira menuju lokasi kejadian. Kapal tersebut diberangkatkan pada Rabu (5/8/2026) malam pukul 22.24 WIB.
Dalam pelaksanaan operasi, KN SAR Yudistira membawa sembilan orang ABK. Selain itu, terdapat empat orang pemilik kapal KM Halim Wijaya yang turut diberangkatkan dalam rangka operasi menuju lokasi kejadian.
"Pengerahan KN Yudistira menjadi bagian dari upaya Tim SAR Gabungan untuk menemukan dan memberikan pertolongan kepada dua orang yang berada di KM Halim Wijaya. Operasi dilakukan setelah kapal tidak berhasil mengatasi gangguan mesin secara mandiri," ucap Malik.
Dalam operasi tersebut, sejumlah peralatan SAR turut disiapkan. Peralatan yang digunakan meliputi KN Yudhistira, Pal SAR Air, Pal SAR Evakuasi, Pal SAR Medis, PalSAR Komunikasi, serta Pal SAR lainnya.
Terhambat Hujan
Operasi pencarian KM Halim Wijaya tidak berlangsung dalam kondisi laut yang mudah. Faktor cuaca menjadi salah satu hambatan yang harus dihadapi tim di lapangan.
Kondisi cuaca saat operasi dilaporkan hujan. Sementara itu, tinggi gelombang berada pada kisaran 1,25 meter hingga 2,5 meter. Kecepatan angin tercatat mencapai 10 knot.
"Kombinasi hujan dan kondisi gelombang tersebut menjadi tantangan dalam proses pencarian kapal yang mengalami mati mesin di sekitar Pulau Angso Duo. Tim SAR harus bergerak menuju lokasi dengan memperhitungkan kondisi perairan," katanya.
Lokasi kapal yang berada di laut, kata Abdul Malik, juga membuat keberadaan dua orang di dalam KM Halim Wijaya menjadi perhatian utama dalam operasi tersebut.
Terlebih, mesin kapal telah mengalami gangguan sejak sekitar pukul 16.00 WIB dan upaya perbaikan oleh ABK hingga pukul 20.10 WIB tidak berhasil.
Dengan kondisi tersebut, operasi pencarian dilakukan menggunakan KN Yudistira beserta sejumlah peralatan pendukung untuk mendukung pencarian, komunikasi, evakuasi, dan penanganan medis.
"Fokus Tim SAR Gabungan adalah menuju lokasi kejadian berdasarkan perkiraan koordinat yang telah diterima dari laporan pemilik kapal. Jarak lokasi dari KN Yudistira diperkirakan mencapai 25,70 Nm dengan arah barat laut," katanya.
Ia mengatakan, kapal nelayan tersebut mengalami mati mesin ketika sedang melakukan perjalanan antardaerah, sementara kondisi cuaca di laut dilaporkan hujan dengan gelombang mencapai 2,5 meter.
"Kami menjalankan operasi pencarian dan pertolongan tersebut dengan mengerahkan KN Yudistira bersama personel serta peralatan SAR yang diperlukan. Dua orang di atas KM Halim Wijaya, yakni Ali dan Sapriadi, menjadi fokus utama pencarian dan pertolongan dalam operasi tersebut," pungkas Kepala Kantor SAR Padang. (*)
















