Sumbardaily.com - Penolakan warga terhadap aktivitas pembuangan sampah di TPA Air Dingin kembali mencuat. Masyarakat di kawasan Aia Dingin, Kecamatan Koto Tangah, menyuarakan keberatan atas masuknya sampah dari Kota Bukittinggi yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Dingin, Kota Padang, Selasa (28/4/2026).
Aksi penolakan tersebut dipicu oleh kondisi TPA yang dinilai sudah tidak mampu lagi menampung tambahan sampah. Warga menyebutkan, volume sampah yang terus meningkat membuat lingkungan sekitar semakin terdampak.
Permasalahan tidak hanya pada kapasitas. Bau menyengat yang berasal dari tumpukan sampah disebut semakin parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Kondisi ini dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di sekitar lokasi TPA.
Selain itu, kekhawatiran akan dampak kesehatan turut menjadi sorotan. Lingkungan yang tercemar dinilai berpotensi memicu berbagai penyakit, terutama akibat kualitas udara yang semakin memburuk.
Rifki, salah seorang warga setempat, mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi tersebut. Ia menilai, masuknya sampah dari luar daerah justru memperparah beban yang selama ini sudah dirasakan masyarakat sekitar TPA.
“Sepertinya ada keuntungan yang didapat oleh pihak UPT TPA sampah Aia Dingin, sehingga sampah dari Bukittinggi selalu dibuang ke sini,” ujar Rifki.
Ia mencurigai kemungkinan adanya kesepakatan tertentu antara pengelola TPA dengan pihak dari luar daerah. Dugaan ini muncul karena aktivitas pembuangan sampah dari Bukittinggi tetap berlangsung tanpa adanya penjelasan yang jelas kepada masyarakat.
Warga menilai kondisi tersebut bertolak belakang dengan realita di lapangan. Mereka menyebut TPA Air Dingin sudah dalam kondisi penuh dan berdampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.
Persoalan lain yang turut memicu kemarahan warga adalah keterbatasan akses air bersih. Masyarakat mengaku sering mengalami kesulitan mendapatkan air dari program Pamsimas untuk kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, warga justru melihat truk-truk pengangkut sampah dari luar daerah bebas menggunakan air di area TPA, termasuk untuk mencuci kendaraan usai membuang muatan. Situasi ini dinilai sangat tidak adil oleh masyarakat.
“Kami sering kesulitan air untuk kebutuhan sehari-hari, tapi truk sampah dari luar daerah malah bisa bebas mencuci mobil di sini. Ini yang membuat warga sangat marah,” ungkapnya.
Keluhan tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih luas, tidak hanya terkait pengelolaan sampah, tetapi juga menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret. Evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan TPA Air Dingin dinilai mendesak dilakukan, termasuk mempertimbangkan penghentian sementara masuknya sampah dari luar daerah.
Selain itu, warga juga menuntut perhatian serius terhadap akses air bersih dan perbaikan kualitas lingkungan di sekitar TPA. Mereka berharap kondisi ini tidak terus berlarut dan segera mendapatkan solusi yang berpihak pada masyarakat. (*)
















