Sumbardaily.com, Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menargetkan kebutuhan investasi sebesar Rp120 triliun hingga 2029 guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat sektor energi hijau sesuai arah pembangunan dalam RPJMN Sumbar 2020–2029.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa investasi menjadi faktor kunci dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 7,3 persen.
Hal tersebut disampaikan Mahyeldi saat membuka secara resmi Forum Investasi Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Sumbar di Padang, Selasa (14/10/2025). Forum ini mengusung tema “Strategi Investasi Energi Hijau dan Implementasi RUPTL 2025–2034 dalam Mencapai Net Zero Emission 2060”.
Kegiatan itu dihadiri oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Yuliot Tanjung, Ketua Umum DPP MKI Evy Haryadi, serta para pelaku usaha dan investor di sektor energi. Forum tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan pelaku industri untuk memperkuat kerja sama investasi, khususnya dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Investasi Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Sumbar
Dalam sambutannya, Mahyeldi menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Sumbar ke depan sangat bergantung pada keberhasilan menarik investasi jangka panjang. Ia menegaskan bahwa tanpa dukungan modal besar dari sektor swasta dan investor, target pembangunan dalam RPJMN sulit dicapai.
“Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 7,3 persen, Sumatera Barat memerlukan investasi minimal Rp120 triliun hingga 2029. Energi hijau menjadi salah satu prioritas utama dalam strategi investasi tersebut,” ujar Mahyeldi.
Ia menambahkan, sektor energi hijau bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga menjadi solusi strategis untuk menjaga ketahanan energi dan mendukung komitmen nasional menuju Net Zero Emission tahun 2060.
“Investasi energi hijau tidak hanya memperkuat perekonomian daerah, tapi juga mempercepat transformasi menuju pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Potensi Energi Hijau Masih Terbuka Lebar
Mahyeldi memaparkan bahwa Sumbar memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar. Sumber daya energi yang tersedia meliputi panas bumi, air, tenaga surya, laut, dan angin. Namun, sejauh ini pemanfaatannya masih tergolong rendah.
“Pemanfaatan energi air baru sekitar 26 persen, panas bumi baru 5 persen, sedangkan potensi energi surya dan laut masih sangat luas untuk dikembangkan. Ini peluang besar bagi investor,” tutur Mahyeldi.
Kebutuhan listrik di Sumbar juga meningkat setiap tahun, sementara cadangan daya hanya sekitar 4 persen dari kebutuhan, jauh di bawah angka ideal 20–30 persen. Menurut Mahyeldi, kondisi tersebut menandakan ruang yang sangat luas bagi investor untuk berkontribusi dalam pembangunan energi hijau.
“Masih banyak ruang bagi dunia usaha untuk berinvestasi di Sumatera Barat. Kita harus memanfaatkannya agar ekonomi daerah tumbuh lebih cepat,” tegasnya.
Pemprov Siapkan Insentif dan Perda Investasi
Untuk memperkuat daya tarik investasi, Pemprov Sumbar telah menyiapkan sejumlah regulasi dan kebijakan pendukung. Mahyeldi menyebut bahwa pemerintah daerah berkomitmen memberikan berbagai kemudahan, baik berupa perizinan, insentif, maupun kepastian hukum bagi investor.
“Sudah ada perda dan insentifnya. Prinsipnya, semua harus dipermudah. Seperti yang dulu kami lakukan di Padang, saat saya menjadi wali kota, investor dijemput langsung dan diberi kemudahan penuh,” ungkapnya.
Menurut Mahyeldi, langkah proaktif seperti itu harus kembali diterapkan di tingkat provinsi untuk menumbuhkan kepercayaan investor dan mempercepat aliran modal ke sektor-sektor produktif, terutama energi bersih dan infrastruktur pendukungnya.
MKI Dorong Kolaborasi Energi Terbarukan
Ketua MKI Sumbar Insanul Kamil, menyampaikan bahwa Sumatera Barat memiliki potensi energi baru terbarukan tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 52 persen dari total potensi nasional. Dengan potensi sebesar itu, Sumbar berpeluang menjadi pusat pengembangan energi hijau di Indonesia.
“Tidak ada provinsi lain yang potensi energi terbarukannya di atas 50 persen, hanya Sumatera Barat. Ini kekuatan besar untuk menarik investasi di sektor energi,” ujarnya.
Insanul menegaskan bahwa MKI akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, guna mempercepat pengembangan energi baru terbarukan.
“Kita ingin Sumbar menjadi role model nasional dalam pengembangan energi hijau. Kalau bicara investasi energi terbarukan di Indonesia, modelnya ada di Sumbar,” kata dia.
Menuju Ekonomi Hijau dan Berkelanjutan
Melalui forum investasi ini, Pemprov Sumbar berharap tercipta sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, investor, dan masyarakat. Peningkatan investasi di sektor energi hijau diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi daerah, tetapi juga mendorong pencapaian target pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Investasi Rp120 triliun bukan hanya angka, tapi simbol komitmen Sumbar untuk bangkit dan memimpin transformasi energi bersih di Indonesia,” ujar Mahyeldi menutup sambutannya.
Dengan dukungan regulasi, potensi sumber daya alam yang besar, serta komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan, Sumatera Barat berpeluang besar menjadi motor pertumbuhan ekonomi hijau nasional menuju 2029 dan seterusnya. (red)
















