Sumbardaily.com – Penguatan industri halal dan pemanfaatan transformasi digital dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi umat yang berkelanjutan. Gagasan tersebut menjadi perhatian dalam Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) yang kembali digelar sebagai ruang kolaborasi sekaligus pertukaran gagasan mengenai perkembangan ekonomi syariah di Indonesia.
Temilnas kali ini mengangkat tema “Optimalisasi Peran Industri Halal dan Transformasi Digital sebagai Upaya Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Umat yang Berkelanjutan.” Tema tersebut menyoroti kebutuhan untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah agar mampu beradaptasi dengan tantangan dan perubahan zaman.
Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas (Unand), Asniati, Ph.D, mengatakan pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya dibicarakan dalam ruang akademik. Menurutnya, gagasan yang berkembang harus diterjemahkan menjadi aksi nyata dengan melibatkan berbagai pihak.
Asniati menyebut Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi syariah. Namun, potensi tersebut membutuhkan kerja sama yang terhubung antara pemerintah, pelaku usaha, dunia industri, akademisi, hingga generasi muda.
“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan ekonomi syariah. Dibutuhkan kolaborasi yang saling terhubung antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, akademisi, dan generasi muda,” ujar Asniati di Gedung Auditorium Kampus Limau Manis, Rabu (26/8/2026).
Menurut Asniati, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah ekonomi syariah ke depan. Pengembangan sektor tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab praktisi dan akademisi, tetapi juga membutuhkan peran generasi penerus.
Karena itu, FEB Unand berkomitmen mendukung kegiatan akademik yang dapat mendorong lahirnya generasi yang unggul dan memiliki integritas. Dukungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas akademik, tetapi juga menghasilkan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat.
Unand Siapkan Penguatan Riset Ekonomi Islam
Sementara itu, Rektor Unand Efa Yonnedi, Ph.D. turut mengungkapkan pengalamannya ketika masih berstatus mahasiswa. Saat itu, dia pernah menjadi ketua seminar perbankan Islam yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pembahasan ekonomi dan perbankan syariah telah lama berkembang melalui forum akademik. Namun, menurut Efa, diskusi tidak boleh berhenti sebagai pertukaran gagasan tanpa diikuti upaya untuk mewujudkan hasil pembahasan dalam bentuk program nyata.
Seminar perbankan Islam yang pernah dipimpinnya ketika mahasiswa, misalnya, kemudian dilanjutkan dengan workshop bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong pendirian Baitul Maal wa Tamwil (BMT).
“Harus ada langkah konkret, baik dari sisi regulasi, pelatihan, sumber daya manusia, maupun pengembangan kelembagaan,” ujar Efa.
Ia menilai penguatan ekonomi syariah membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Regulasi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pelatihan, serta pengembangan kelembagaan perlu berjalan beriringan agar perkembangan ekonomi syariah dapat memberikan dampak yang lebih nyata.
Dalam upaya memperkuat kontribusi akademik terhadap perkembangan ekonomi Islam, Unand telah memiliki Program Studi Ekonomi Islam di FEB. Perguruan tinggi tersebut juga berencana mengembangkan pusat riset dan pengembangan ekonomi Islam.
Pusat tersebut diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat kegiatan riset secara profesional sekaligus meningkatkan kapasitas akademik. Dengan demikian, pengembangan ekonomi Islam di lingkungan Unand tidak hanya diarahkan pada proses pembelajaran, tetapi juga penguatan penelitian dan pengembangan keilmuan.
Temilnas Hadirkan Pakar dan Pemangku Kepentingan
Pelaksanaan Temilnas menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai perspektif mengenai masa depan ekonomi syariah. Forum ini menghadirkan pakar, akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan nasional.
Sejumlah tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Mahyeldi Ansharullah, Muhammad Kholid, Sutan Emir Hidayat, Syafrudin Karimi, Gusfahmi Arifin, Pandji P. Djajanegara, Laila Isrona, Sitti Rizki Mulyani, Belligo Agra, Rahmadini Aulia, dan Ika Sari Wahyuni TD.
Melalui Temilnas, pembahasan mengenai industri halal, transformasi digital, dan ekonomi syariah diarahkan untuk tidak hanya menghasilkan gagasan akademik, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan aksi nyata. Penguatan kerja sama lintas sektor dinilai menjadi bagian penting untuk mewujudkan kemandirian ekonomi umat yang berkelanjutan.
Unand melalui FEB juga menempatkan generasi muda, penguatan sumber daya manusia, riset, serta pengembangan kelembagaan sebagai bagian dari upaya mendukung ekosistem ekonomi syariah. Dengan pendekatan tersebut, potensi ekonomi syariah Indonesia diharapkan dapat dikembangkan melalui langkah yang lebih konkret dan berkelanjutan. (*)















