Sumbardaily.com - Dampak hujan dengan intensitas deras yang melanda Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, mulai ditindaklanjuti pemerintah bersama masyarakat. Setelah sebelumnya satu lokal bangunan bekas SDN 19 Baringin roboh, kondisi aliran sungai dan jaringan irigasi di sejumlah kawasan juga mendapat penanganan melalui upaya normalisasi.
Hujan deras yang terjadi beberapa waktu lalu tidak hanya berdampak pada bangunan bekas fasilitas pendidikan di Kelurahan Baringin.
Pendangkalan hingga jebolnya jaringan irigasi turut terjadi dan berdampak terhadap saluran yang mengairi areal persawahan serta perikanan masyarakat di kawasan Batu Gadang, Lubuk Sarik Padang Besi, Baringin, dan Tarantang.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kecamatan Lubuk Kilangan bersama pemerintah kelurahan untuk segera melakukan koordinasi dengan Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) beserta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang.
Koordinasi tersebut dilakukan sebagai langkah penanganan terhadap aliran sungai yang terdampak hujan lebat sekaligus memulihkan jaringan irigasi yang mengalami kerusakan.
Dalam prosesnya, Dinas PSDA Sumbar menurunkan dua alat berat. Sementara itu, Dinas PUPR Kota Padang mengerahkan satu unit alat berat untuk membantu mempercepat pengerukan sedimentasi dan pemulihan fungsi aliran sungai serta jaringan irigasi.
Camat Lubuk Kilangan, Nurul Widya Siska Usman mengatakan, penanganan tersebut dilakukan melalui kolaborasi pemerintah dengan masyarakat. Warga bersama unsur RT, RW, LPM dan tokoh masyarakat ikut mengawal proses penanganan dampak hujan lebat.
"Kami bersama RT, RW, LPM serta tokoh masyarakat terus berkoordinasi dan bergotong royong dalam mengawal upaya penanganan dampak hujan lebat ini. Sinergi antara masyarakat, Pemko Padang dan Pemprov Sumbar sangat penting agar normalisasi sungai dapat segera terlaksana dan fungsi irigasi untuk sawah maupun perikanan masyarakat dapat kembali berjalan dengan baik," katanya, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, normalisasi sungai menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko banjir dan mencegah kerusakan yang lebih besar.
Penanganan aliran sungai juga berkaitan langsung dengan keberlangsungan aktivitas pertanian dan perikanan yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat di wilayah terdampak.
Sebelumnya, hujan dengan intensitas cukup tinggi pada Rabu (19/8/2026) menyebabkan satu lokal bangunan lama SD Negeri 19 Baringin yang sudah tidak digunakan lagi roboh.
Bangunan tersebut memiliki sejarah panjang sebagai fasilitas pendidikan dan sebelumnya pernah terdampak banjir pada 1997 hingga akhirnya dilakukan pemindahan.
Bangunan itu masih digunakan untuk kegiatan pendidikan pada periode 1999 hingga 2019 dan sempat dimanfaatkan TK Waladar Rasyid sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pendidikan kemudian kembali dipindahkan pada 2023.
Selain bangunan roboh, hujan juga menyebabkan jalur sungai di kawasan Baringin mengalami pelebaran. Kondisi aliran sungai tersebut sebelumnya telah menjadi perhatian masyarakat.
Ketua LPMK Baringin, Jamal F Chan, sebelumnya meminta Pemko Padang memberikan perhatian serius terhadap kondisi aliran sungai dan infrastruktur penghubung masyarakat, termasuk jembatan Baringin-Koto Lalang yang disebut sudah lama hancur dan belum diperbaiki.
Tokoh masyarakat Kelurahan Tarantang, Rusdianto, juga sebelumnya mengungkapkan bahwa persoalan normalisasi sungai telah disuarakan sejak 2015 dan pernah disampaikan dalam Musrenbang kecamatan.
Kini, upaya normalisasi mulai dilakukan dengan dukungan tiga unit alat berat dari Dinas PSDA Sumbar dan Dinas PUPR Kota Padang.
Masyarakat berharap pekerjaan tersebut dapat segera dituntaskan sehingga aliran sungai kembali lancar, jaringan irigasi dapat berfungsi optimal, serta aktivitas di sektor pertanian dan perikanan bisa kembali berlangsung dengan aman dan nyaman. (*)















