Sumbardaily.com - Gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,6 mengguncang wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), pada Jumat (9/10/2026) sore.
Guncangan gempa yang berpusat di laut tersebut dilaporkan berdasarkan estimasi peta guncangan BMKG dapat dirasakan warga di Kepulauan Mentawai dengan intensitas III MMI. Meski demikian, hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan hasil analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 16.47.46 WIB. Episenter berada pada koordinat 1,89 derajat Lintang Selatan (LS) dan 100,12 derajat Bujur Timur (BT).
Lokasi pusat gempa berada di laut, sekitar 56 kilometer timur laut Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Gempa tersebut tercatat memiliki kedalaman delapan kilometer.
"Karakteristik lokasi dan kedalaman hiposenter menunjukkan gempa tersebut termasuk kategori gempa dangkal. Peristiwa ini berkaitan dengan aktivitas Sesar Mentawai," kata Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang, Tony Agus Wijaya.
Kedalaman pusat gempa yang relatif dangkal menjadi salah satu parameter penting dalam menganalisis karakteristik kejadian tektonik tersebut.
Sementara itu, posisi episenter di laut menjadi bagian dari informasi yang digunakan BMKG untuk menentukan parameter gempa dan memperkirakan dampak guncangannya.
Berdasarkan estimasi peta guncangan atau shakemap, gempa dirasakan di wilayah Kepulauan Mentawai dengan intensitas III MMI.
Pada skala tersebut, getaran dapat dirasakan secara nyata di dalam rumah. Sensasi guncangannya digambarkan menyerupai kondisi ketika sebuah truk melintas.
Meski getaran dilaporkan dapat dirasakan, hingga informasi tersebut disampaikan belum terdapat laporan mengenai kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.
Di tengah kejadian gempa tersebut, hasil pemodelan BMKG menunjukkan bahwa gempa bermagnitudo 4,6 itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Kepastian tersebut menjadi salah satu informasi penting bagi masyarakat setelah wilayah Kepulauan Mentawai diguncang gempa tektonik pada Jumat sore.
BMKG juga melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas kegempaan setelah kejadian utama. Hingga Jumat (9/10/2026) pukul 17.06 WIB, hasil monitoring belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.
Dengan demikian, berdasarkan pemantauan hingga waktu tersebut, belum terdeteksi gempa susulan setelah gempa bermagnitudo 4,6 mengguncang kawasan Kepulauan Mentawai.
"Meski tidak berpotensi tsunami dan belum terdapat laporan kerusakan, masyarakat tetap diminta memperhatikan kondisi bangunan serta memastikan keamanan lingkungan tempat tinggal masing-masing," kata Tony.
Dirinya mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat gempa. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya yang dapat muncul apabila kondisi bangunan tidak lagi stabil.
"Selain itu, warga diminta memeriksa kondisi rumah sebelum kembali memasukinya. Pemeriksaan perlu dilakukan untuk memastikan bangunan cukup tahan terhadap gempa atau tidak mengalami kerusakan akibat getaran yang dapat membahayakan kestabilannya," katanya.
Imbauan tersebut menjadi perhatian penting bagi masyarakat setelah merasakan guncangan, terutama ketika kondisi bangunan belum dipastikan aman.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar menjadikan kanal komunikasi resmi sebagai rujukan utama dalam memperoleh informasi terkait gempa bumi.
Untuk mendapatkan perkembangan informasi kegempaan yang dapat dipertanggungjawabkan, masyarakat dapat mengakses kanal resmi BMKG yang telah terverifikasi.
Informasi dapat diperoleh melalui akun Instagram dan Twitter/X @infoBMKG, situs resmi BMKG di bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id, serta kanal Telegram InaTEWS BMKG.
Masyarakat juga dapat menggunakan aplikasi resmi BMKG untuk perangkat iOS dan Android, yakni WRS-BMKG atau InfoBMKG.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan atau mempercayai isu yang tidak memiliki dasar informasi resmi. Sikap tenang, kewaspadaan terhadap kondisi bangunan, serta penggunaan sumber informasi yang tepercaya menjadi langkah penting setelah kejadian gempa. (*)
















