Sumbardaily.com - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Kondisi tersebut mendorong Pertamina Patra Niaga Sumatera Bagian Utara (PPN Sumbagut) mengambil langkah cepat dengan menyalurkan bantuan alat kesehatan untuk mendukung penanganan dampak asap di wilayah tersebut.
Bantuan itu disalurkan melalui Terminal BBM Sei Siak bersama pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pelalawan.
Bantuan berupa masker N95 dan oksigen portabel diberikan kepada tim lapangan serta masyarakat melalui Posko Kesehatan Terpadu Penanganan Karhutla Kecamatan Kerumutan, Pelalawan, pada 25 Agustus.
Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya aktivitas titik api di Kabupaten Pelalawan dalam satu bulan terakhir.
Dari 12 kecamatan yang terdampak karhutla, Kerumutan disebut menjadi wilayah dengan kondisi paling parah.
Kebakaran terjadi di tengah lahan sawit milik masyarakat dengan luas hampir 10 hektare.
Kondisi musim kemarau atau el nino yang sedang melanda Indonesia turut membuat hutan dan lahan berada dalam kondisi kering sehingga lebih mudah terbakar.
Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab. Sebagian besar karhutla di wilayah tersebut justru dipicu oleh aktivitas manusia, baik dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja.
Ketua Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Pelalawan, Zulfan mengatakan, faktor manusia menjadi penyebab dominan terjadinya karhutla.
Menurutnya, sebanyak 99 persen kebakaran dipicu manusia, sedangkan kemarau hanya menyumbang satu persen.
"Kecamatan Kerumutan menjadi kecamatan terparah di Kabupaten Pelalawan yang terdampak karhutla. Terlebih lahan yang terbakar merupakan lahan gambut yang memiliki karakteristik basah. Lahan gambut yang terbakar tidak hanya berada di permukaan, tetapi bisa membara jauh di dalam tanah," katanya, Rabu (26/8/2026).
Karakteristik lahan gambut membuat penanganan kebakaran menjadi tantangan tersendiri. Api tidak selalu terlihat hanya dari permukaan lahan, sebab bara dapat bertahan dan menyebar jauh di bawah tanah.
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman dan pengendalian dampak asap membutuhkan kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
Di tengah situasi tersebut, kebutuhan terhadap perlindungan kesehatan bagi petugas yang berada di lapangan menjadi perhatian.
Tim pemadam harus bekerja dalam kondisi paparan asap, bahkan dengan waktu siaga yang dapat berlangsung sepanjang hari.
Zulfan mengapresiasi bantuan yang diberikan Pertamina Patra Niaga untuk mendukung tim yang bertugas menangani karhutla di Kerumutan.
"Penghargaan setinggi-tingginya kami berikan atas kepedulian Pertamina. Tim pemadam yang siaga 24 jam memiliki potensi terjangkit penyakit pernapasan yang tinggi karena paparan asap dalam jangka waktu yang lama. Bantuan ini dapat meminimalisir potensi tersebut dan tim dapat bekerja dengan kondisi yang aman dan nyaman," ujar Zulfan.
Bantuan masker N95 dan oksigen portabel tersebut menjadi bagian dari respons Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terhadap kondisi darurat asap di Riau.
Penyaluran dilakukan untuk membantu kebutuhan tim lapangan sekaligus masyarakat yang terdampak asap akibat karhutla.
Pjs Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagut Pertamina Patra Niaga, Silvani Maiyestuhariani mengatakan, kehadiran perusahaan dalam penanganan kondisi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.
Silvani menegaskan, Pertamina tidak hanya menjalankan fungsi dalam distribusi energi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan.
“Melalui aksi tanggap darurat ini, Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya untuk selalu hadir di tengah masyarakat. Kami berharap bantuan yang disalurkan dapat membantu penanganan penanggulangan asap di Riau, khususnya Kecamatan Kerumutan Kabupaten Pelalawan sekaligus memperkuat sinergi dan hubungan baik antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat," katanya.
"Pertamina hadir tidak hanya sebagai penyedia energi nasional, tetapi juga sebagai mitra sosial yang peduli terhadap kondisi masyarakat dan lingkungan sekitar,” sambung Silvani.
Aksi tanggap darurat tersebut sekaligus memperlihatkan kebutuhan perlindungan kesehatan dalam penanganan karhutla. Ketika kebakaran terjadi di lahan gambut dan asap mulai memengaruhi aktivitas masyarakat, perlengkapan seperti masker N95 dan oksigen portabel menjadi bagian penting dalam mendukung petugas serta warga yang berada di wilayah terdampak.
"Perlindungan terhadap masyarakat dan tim lapangan juga menjadi bagian penting untuk menghadapi dampak asap yang muncul dari kebakaran hutan dan lahan tersebut," imbuhnya. (*)















