Sumbardaily.com - Pola makan sehat berbasis pangan lokal didorong menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda. Upaya tersebut dilakukan melalui peluncuran inisiatif Makan Dengan Makna yang menggandeng platform digital untuk memperluas edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Program tersebut diluncurkan di Jakarta, Kamis (9/7/2026), dalam kolaborasi antara TikTok Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan Foodbank of Indonesia (FOI).
Bersamaan dengan peluncuran program, Kementerian Kesehatan dan TikTok Indonesia juga menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP) sebagai bentuk kerja sama dalam mempercepat transformasi literasi kesehatan dan pembudayaan hidup sehat melalui platform digital.
Ruang lingkup kerja sama tersebut meliputi penyediaan konten edukasi bagi masyarakat, pertukaran data yang aman dan bertanggung jawab, serta pelaksanaan berbagai program kesehatan lainnya.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan pola makan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi munculnya berbagai penyakit tidak menular (PTM). Menurutnya, penyakit seperti stroke, penyakit jantung, kanker, hingga gangguan ginjal banyak dipengaruhi oleh akumulasi kebiasaan makan yang kurang sehat dalam jangka panjang.
"Banyak orang merasa dirinya sehat hari ini, padahal lima atau sepuluh tahun lagi berisiko terkena stroke atau serangan jantung akibat pola makan yang buruk," ujar Menkes Budi.
Karena itu, Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat mulai menerapkan pola konsumsi yang lebih sehat sejak dini. Menkes juga menilai peran media sosial sangat penting untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan, khususnya kepada kelompok usia muda.
Dalam kesempatan tersebut, Budi secara khusus meminta para kreator konten di TikTok ikut mengemas pesan-pesan kesehatan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda sehingga lebih mudah diterima dan menjadi kebiasaan baru.
"Tolong bantu saya mengedukasi masyarakat dengan gaya anak muda. Buatlah pola makan sehat ini menjadi tren. Edukasikan bahwa minum kopi hitam tanpa gula itu keren, dan makan rebus-rebusan atau salad itu gaya hidup yang trendi," pinta Menkes Budi.
Dorongan tersebut juga didukung oleh hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan masih rendahnya konsumsi pangan sehat di Indonesia. Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 96,7 persen penduduk berusia lima tahun ke atas masih kurang mengonsumsi buah dan sayur.
Selain itu, sebanyak 33,7 persen masyarakat tercatat gemar mengonsumsi makanan manis, sedangkan 47,5 persen lainnya rutin mengonsumsi minuman manis. Pada saat yang sama, prevalensi obesitas pada penduduk berusia 18 tahun ke atas meningkat dari 15,4 persen pada 2013 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Sebagai bagian dari upaya pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular, Kementerian Kesehatan juga terus mendorong implementasi program Nutri-Level. Kebijakan tersebut bertujuan membantu masyarakat memahami, membandingkan, dan menentukan pilihan produk pangan berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL).
Melalui Nutri-Level, pemerintah menitikberatkan pada peningkatan edukasi konsumen ketika memilih produk pangan, bukan membatasi keberadaan produk tertentu di pasaran.
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan, Niken Wastu Palupi, mengatakan solusi untuk mengatasi persoalan salah gizi sebenarnya tersedia di sekitar masyarakat melalui pemanfaatan pangan lokal yang lebih segar dan tidak melalui proses pengolahan berlebih atau ultra-processed food.
Ia juga mengingatkan bahwa Kementerian Kesehatan telah menetapkan batas konsumsi harian gula, garam, dan lemak. Batas tersebut terdiri atas maksimal empat sendok makan gula, satu sendok teh garam, dan lima sendok makan lemak setiap hari.
Sementara itu, Head of Public Policy TikTok Indonesia, Noudhy Valdryno, menyampaikan bahwa konten mengenai makanan, termasuk makanan sehat, menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari dan dibagikan pengguna di platform tersebut.
"Setiap hari, jutaan pengguna datang ke TikTok untuk menemukan resep, inspirasi memasak, rekomendasi makanan, hingga berbagai cara sederhana untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat," lanjut Noudhy.
Menurutnya, tingginya minat masyarakat terhadap topik tersebut terlihat dari banyaknya unggahan yang menggunakan tagar seperti #KulinerIndonesia, #HidupSehat, #MakananSehat, hingga #CemilanSehat.
Melalui kolaborasi ini, antusiasme masyarakat terhadap konten makanan diharapkan dapat diarahkan menjadi sarana edukasi yang mendorong penerapan pola makan sehat berbasis pangan lokal. Kehadiran para kreator konten di TikTok juga diharapkan mampu menghadirkan informasi kesehatan yang lebih mudah dipahami, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga semakin banyak masyarakat terdorong menerapkan gaya hidup sehat. (*)














