Sumbardaily.com - Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, meminta pemerintah mengevaluasi pola pembekalan bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Menurutnya, materi pelatihan seharusnya lebih diarahkan pada penguatan kompetensi manajerial dibandingkan latihan bergaya militer, sehingga sesuai dengan tugas utama para pengelola koperasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Darmadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6/2026). Ia menegaskan bahwa kebutuhan utama program Kopdes Merah Putih adalah menghadirkan sosok manajer yang memiliki kemampuan mengelola usaha, bukan individu yang dibentuk melalui pola latihan layaknya personel militer.
"Kita yang dicari itu manajer, bukan tentara atau militer. Mereka tidak siap dilatih dengan metode seperti itu. Yang harus diperkuat justru kemampuan manajerialnya," ujar Darmadi.
Darmadi juga menyoroti munculnya berbagai persoalan dalam pelaksanaan program pembekalan tersebut. Menurutnya, bertambahnya jumlah peserta yang meninggal dunia hingga mencapai lima orang menjadi salah satu indikator bahwa pelaksanaan program perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Ia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari proses perencanaan yang belum dilakukan secara matang. Rekrutmen calon manajer dalam jumlah puluhan ribu orang dalam waktu singkat dinilai berpotensi memunculkan berbagai persoalan yang sebelumnya belum diantisipasi secara optimal.
"Permasalahan itu timbul karena tidak well-planning. Perekrutan puluhan ribu manajer dilakukan dalam waktu singkat, sehingga tentu ada dampaknya dan harus menjadi bahan evaluasi," katanya.
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut menegaskan bahwa evaluasi tidak cukup hanya pada aspek pelaksanaan, tetapi juga harus menyentuh substansi pembelajaran yang diberikan kepada para peserta. Ia mendorong agar kurikulum, silabus, maupun metode pelatihan segera disesuaikan dengan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh seorang manajer koperasi.
Menurut Darmadi, mempertahankan metode pelatihan yang ada saat ini berpotensi memunculkan kembali insiden serupa. Karena itu, perubahan pendekatan dinilai menjadi langkah penting agar tujuan program dapat berjalan lebih efektif.
"Saya pikir harus diubah kurikulum, silabus, atau metode pelatihannya. Fokusnya harus pada kemampuan mengelola usaha, bukan keterampilan militer," tegasnya.
Lebih lanjut, Darmadi menjelaskan bahwa seorang calon manajer Kopdes Merah Putih semestinya memperoleh pembekalan mengenai penyusunan model bisnis, kemampuan membaca peluang pasar, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga strategi melakukan penetrasi pasar.
Menurut Legislator Dapil DKI Jakarta III tersebut, kemampuan-kemampuan itu merupakan bekal yang lebih relevan untuk memastikan koperasi mampu berkembang serta menjalankan operasionalnya secara berkelanjutan.
"Manajer itu tidak mudah. Harus diuji kemampuan manajerialnya, bagaimana melihat peluang bisnis, mengembangkan UMKM, dan melakukan penetrasi pasar. Itu yang seharusnya menjadi materi utama," ujarnya.
Darmadi menambahkan, keberhasilan program Kopdes Merah Putih tidak hanya ditentukan oleh pembentukan kelembagaan koperasi, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang dipercaya mengelolanya.
Karena itu, ia menilai evaluasi terhadap sistem pembekalan menjadi langkah penting agar program mampu mencapai tujuan yang telah dirancang. Menurutnya, tanpa kompetensi manajerial yang memadai, koperasi akan menghadapi tantangan untuk berkembang dan memberikan manfaat secara optimal.
"Kalau manajernya tidak dibekali kemampuan yang sesuai, akan sulit bagi koperasi untuk berkembang. Karena itu, metodologi pelatihannya harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan usaha," pungkasnya. (*)















