Sumbardaily.com - Di tengah meningkatnya minat masyarakat untuk berwisata dengan biaya terjangkau, KA Pariaman Ekspres hadir bukan hanya sebagai moda transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman perjalanan wisata yang menawarkan keindahan pesisir barat Sumatera Barat (Sumbar) dalam satu rute perjalanan.
Dengan tarif hanya Rp5 ribu, kereta api yang melayani rute Pauh Lima-Padang-Pariaman-Naras tersebut kini menjadi pilihan favorit masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati panorama alam sekaligus mengunjungi berbagai destinasi unggulan di Kota Pariaman, termasuk Pantai Gandoriah dan Festival Tabuik yang segera mencapai puncaknya pada akhir Juni 2026.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat (KAI Divre II Sumbar) terus menghadirkan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau melalui operasional KA Pariaman Ekspres. Setiap harinya, kereta ini melayani 10 perjalanan dengan kapasitas mencapai 4.240 tempat duduk.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab mengatakan, KA Pariaman Ekspres tidak hanya menawarkan kemudahan mobilitas bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda dibandingkan moda transportasi lainnya.
“KA Pariaman Ekspres tidak hanya menjadi moda transportasi yang ekonomis, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang unik dengan menyuguhkan panorama alam pesisir, hamparan sawah hijau, serta suasana khas perkampungan Minangkabau sepanjang perjalanan,” katanya, Selasa (23/6/2026).
Selama perjalanan yang berlangsung sekitar 1,5 jam, penumpang disuguhkan pemandangan laut yang membentang di sisi jalur kereta, hamparan persawahan yang masih asri, hingga aktivitas masyarakat lokal yang tetap mempertahankan budaya Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari.
Kombinasi antara panorama alam dan suasana khas daerah membuat perjalanan menggunakan KA Pariaman Ekspres menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Sumbar.
Setibanya di Stasiun Pariaman, wisatawan bahkan tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk mencapai salah satu destinasi favorit di wilayah tersebut. Dari stasiun, pengunjung hanya perlu berjalan sekitar 200 meter menuju Pantai Gandoriah.
Pantai yang menjadi salah satu ikon wisata Sumatera Barat tersebut menawarkan panorama pantai yang memikat, aneka kuliner khas daerah, serta beragam aktivitas rekreasi yang dapat dinikmati bersama keluarga.
Momentum kunjungan wisata ke Pariaman semakin menarik karena bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Tabuik yang setiap tahunnya menjadi magnet wisata budaya berskala nasional.
Festival Tabuik diselenggarakan setiap tanggal 1 hingga 10 Muharram sebagai bentuk peringatan Asyura. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut dikenal luas sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat Pariaman.
Secara etimologis, Tabuik berasal dari kata Arab Tabut yang berarti peti. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini diwujudkan dalam bentuk replika menara berhias megah yang kemudian diarak melalui serangkaian prosesi budaya.
Prosesi tersebut diiringi tabuhan tasa, pertunjukan silek atau silat tradisional, tarian budaya, hingga puncaknya berupa pembuangan Tabuik ke laut. Keunikan tradisi yang sarat nilai sejarah dan budaya ini setiap tahun mampu menarik ribuan wisatawan dari berbagai daerah untuk datang ke Kota Pariaman.
Meningkatnya antusiasme masyarakat menjelang puncak Festival Tabuik turut berdampak pada permintaan perjalanan menggunakan KA Pariaman Ekspres.
Untuk mendukung mobilitas masyarakat selama akhir pekan puncak Festival Tabuik yang berlangsung pada tanggal 27 hingga 28 Juni 2026, KAI Divre II Sumbar menyiapkan total 8.480 tempat duduk.
Berdasarkan data sementara per 23 Juni 2026 pukul 12.00 WIB, sebanyak 3.825 tiket telah terjual. Angka tersebut setara dengan tingkat okupansi sebesar 45 persen.
Dengan demikian, masih tersedia 4.655 tempat duduk yang dapat dimanfaatkan masyarakat yang ingin menyaksikan langsung kemeriahan Festival Tabuik di Pariaman.
“Update pemesanan tiket KA Pariaman Ekspres untuk keberangkatan tanggal 27 dan 28 Juni 2026 menunjukkan sebanyak 3.825 tiket telah terjual atau mencapai okupansi 45 persen. Angka tersebut masih terus bergerak seiring berlangsungnya proses pemesanan,” kata Reza.
Melihat tren pemesanan yang terus berlangsung, KAI mengimbau masyarakat untuk segera melakukan pembelian tiket agar memperoleh kepastian perjalanan dan dapat menikmati rangkaian Festival Tabuik dengan lebih nyaman.
Untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan, pemesanan tiket KA Lokal dapat dilakukan melalui aplikasi Access by KAI. Penjualan tiket dilayani secara bertahap mulai H-7 sebelum jadwal keberangkatan sehingga masyarakat dapat merencanakan perjalanan lebih baik.
Daya tarik KA Pariaman Ekspres tidak hanya dirasakan masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah.
Alya, wisatawan asal Pekanbaru, mengaku memilih menggunakan KA Pariaman Ekspres karena menawarkan pengalaman wisata yang hemat sekaligus menyenangkan.
“Naik KA Pariaman Ekspres seperti mendapatkan paket wisata singkat yang murah meriah. Sepanjang perjalanan saya bisa menikmati pemandangan laut yang indah, mencicipi kuliner khas Minang, lalu kembali di hari yang sama dengan perjalanan yang nyaman dan tenang,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menggambarkan bagaimana perjalanan menggunakan kereta api kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan telah menjadi bagian dari aktivitas wisata itu sendiri.
Kehadiran KA Pariaman Ekspres juga dinilai memberikan kontribusi terhadap peningkatan aksesibilitas menuju berbagai destinasi wisata di Sumatera Barat. Selain memudahkan perjalanan wisatawan, layanan ini turut memberikan dampak positif bagi pertumbuhan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat lokal.
Dengan tarif yang terjangkau, kenyamanan perjalanan, serta suguhan panorama khas pesisir Sumatera Barat, KA Pariaman Ekspres semakin diminati sebagai pilihan transportasi wisata.
“KAI berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan angkutan penumpang, baik dari sisi ketepatan waktu, kenyamanan, maupun keselamatan guna menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat, khususnya pada periode dengan permintaan tinggi seperti Festival Tabuik,” pungkas Reza. (*)















