Sumbardaily.com - Upaya memperkuat mitigasi bencana pascagalodo di Kecamatan Pauh, Kota Padang, terus dilakukan melalui pemetaan partisipatif kawasan hulu Sungai Batang Kuranji.
Kegiatan ini melibatkan masyarakat dalam proses identifikasi titik rawan bencana, pendokumentasian perubahan lingkungan, hingga pengumpulan data geospasial yang diharapkan menjadi dasar penyusunan program pembangunan dan pengurangan risiko bencana di masa mendatang.
Pemetaan partisipatif tersebut dilaksanakan pada 5 Juni 2026 melalui kegiatan Kuliah Lapangan sekaligus Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digelar Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta.
Ketua Tim PKM, Prof. Dr. Ir. Haryani, M.T., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mendukung upaya mitigasi bencana, rehabilitasi lingkungan, serta penguatan kapasitas masyarakat melalui penyusunan data berbasis geospasial. Kecamatan Pauh dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi salah satu wilayah yang terdampak galodo dan memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap berbagai ancaman bencana.
Ancaman tersebut meliputi banjir bandang, tanah longsor, hingga sedimentasi sungai yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat di wilayah tersebut.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dan dosen tidak hanya melaksanakan pembelajaran lapangan, tetapi juga berkontribusi langsung dalam pengumpulan data dan penyusunan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan wilayah yang tangguh bencana,” ungkapnya dilansir Selasa (9/6/2026).
Kegiatan diawali dengan survei lapangan yang dilakukan di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Batang Kuranji. Survei tersebut bertujuan mengidentifikasi kondisi fisik DAS, perubahan morfologi sungai akibat galodo, kondisi tutupan lahan, serta sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan lingkungan pascabencana.
Selain melakukan pengamatan langsung di lapangan, tim juga menerapkan pendekatan pemetaan partisipatif dengan melibatkan masyarakat setempat. Warga diajak berpartisipasi dalam pengumpulan data spasial, mengidentifikasi titik-titik yang dinilai rawan bencana, serta mendokumentasikan berbagai perubahan kondisi lingkungan yang terjadi setelah galodo.
Menurut Prof. Haryani, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut karena dapat mengintegrasikan pengetahuan lokal yang dimiliki warga dengan informasi geospasial yang diperoleh tim di lapangan.
“Melalui pendekatan pemetaan partisipatif, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam proses pengumpulan data spasial, identifikasi titik rawan bencana, serta dokumentasi perubahan lingkungan yang terjadi pascabencana. Keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting untuk mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan informasi geospasial sehingga menghasilkan data yang lebih akurat dan kontekstual,” ujarnya.
Tidak hanya berfokus pada pemetaan aliran hulu Sungai Batang Kuranji, tim juga menyusun profil wilayah Kecamatan Pauh yang mencakup berbagai aspek penting. Profil tersebut meliputi kondisi fisik wilayah, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai basis data dalam mendukung perencanaan pembangunan yang tangguh terhadap bencana dan berkelanjutan.
Data yang dihimpun mencakup kondisi kependudukan, penggunaan lahan, jaringan infrastruktur, fasilitas umum, hingga berbagai potensi dan permasalahan wilayah yang berkaitan dengan risiko kebencanaan.
Sebagai bagian dari kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat, tim juga melakukan kajian karakteristik bencana di Kecamatan Pauh. Kajian tersebut dilakukan melalui analisis geospasial yang dipadukan dengan observasi lapangan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi kebencanaan di wilayah tersebut.
Analisis yang dilakukan mencakup identifikasi jenis ancaman bencana, pola persebaran daerah rawan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya galodo, tingkat kerentanan masyarakat, serta kapasitas lokal dalam menghadapi potensi bencana.
Prof. Haryani berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut mampu menghasilkan basis data geospasial yang komprehensif mengenai kondisi kawasan hulu Sungai Batang Kuranji dan karakteristik kebencanaan Kecamatan Pauh.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan basis data geospasial yang komprehensif mengenai kondisi hulu Sungai Batang Kuranji dan karakteristik kebencanaan Kecamatan Pauh. Data tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan dalam penyusunan program mitigasi bencana, rehabilitasi lingkungan, pengelolaan daerah aliran sungai, hingga perencanaan tata ruang yang lebih adaptif terhadap risiko bencana di masa mendatang,” harapnya.
Selain memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemangku kepentingan, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu perencanaan wilayah dan kota dalam menyelesaikan berbagai persoalan nyata di tengah masyarakat melalui pendekatan partisipatif dan berbasis geospasial.
“Melalui sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Bung Hatta terus berkomitmen mendukung pembangunan wilayah yang berkelanjutan, tangguh terhadap bencana, serta berorientasi pada pemberdayaan masyarakat,” imbuhnya. (*)
















