Sumbardaily.com, Padang – Gelombang dukungan untuk warga Gaza kembali bergema dari Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Kali ini, dukungan tersebut disampaikan melalui lantunan puisi dan pertunjukan seni dalam kegiatan bertajuk Love and Save Gaza yang berlangsung di area Forkasmi, GOR Haji Agus Salim, Minggu (22/6/2025). Aksi ini merupakan bagian dari gerakan global World Poetry Movement (WPM), yang turut melibatkan sejumlah komunitas lokal dan tokoh masyarakat.
Gerakan ini dilaksanakan atas kerja sama WPM dengan komunitas SatuPena Sumbar, FKPPI, DHD 45, Asosiasi Siti Manggopoh, dan Forkasmi. Dalam suasana yang penuh keprihatinan dan semangat solidaritas, para penyair, seniman, serta pegiat sosial menyuarakan keprihatinan atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza melalui puisi.
Staf Ahli Bidang SDM dan Kemasyarakatan Kota Padang, Syahrial Kamat, mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk ekspresi kepedulian yang menyentuh hati dan menggerakkan masyarakat.
"Kami ingin mengajak warga Kota Padang untuk ikut peduli terhadap saudara kita di Gaza. Dukungan bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari donasi hingga karya seni seperti puisi. Kegiatan ini juga menjadi ruang hidup bagi UMKM dan pegiat seni lokal," ujarnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, menekankan bahwa meskipun Palestina tetap menunjukkan keberanian menghadapi agresi, solidaritas dari masyarakat dunia tetap dibutuhkan sebagai wujud empati kemanusiaan.
"Beragam cara bisa kita lakukan untuk menunjukkan kepedulian. Salah satunya adalah melalui gerakan seni dan sastra," kata Arry.
Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Sumbar yang juga Staf Ahli Tim Penggerak PKK Sumbar, Dianita Maulin Vasko, turut menyampaikan kebanggaannya atas antusiasme publik dalam mengekspresikan cinta dan dukungan terhadap Palestina.
"Inilah suara dari Ranah Minang yang menyampaikan pesan kemanusiaan dan penolakan terhadap kezaliman. Melalui puisi, kita menyerukan perlawanan yang damai," ucap Dianita, usai membacakan salah satu puisi di panggung solidaritas tersebut.
Koordinator Nasional World Poetry Movement, Sastri Bakry, menilai puisi sebagai medium yang ampuh untuk menyampaikan pesan moral dan seruan perdamaian dunia. Menurutnya, sastra memiliki kekuatan dalam membangun kesadaran publik atas tragedi kemanusiaan yang terus terjadi di Gaza.
"Puisi bukan sekadar kata, ia adalah senjata nurani. Melalui puisi, kita menggelorakan suara yang menentang kekerasan dan mengajak dunia untuk tidak tinggal diam," tutur Sastri.
Sementara itu, Ketua Panitia acara, Eka Fitriyah Fauzar, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari empati kolektif terhadap penderitaan rakyat Gaza akibat serangan yang tak kunjung berhenti.
"Kita tidak boleh membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Ini adalah panggilan untuk bersatu, bersuara, dan bertindak," ujarnya.
Menurut Eka, kegiatan solidaritas semacam ini telah digelar di berbagai kota di Indonesia dan juga di luar negeri. Sebagai puncaknya, peringatan global World Poetry Movement akan digelar secara daring pada 28–29 Juni 2025, dengan melibatkan 179 penyair dari 121 negara. (red)
















