Sumbardaily.com, Padang - Komunitas Seni Nan Tumpah menutup rangkaian kegiatan Kelana Gambar Bergerak dengan acara buka bersama sekaligus pemutaran karya para peserta pada Minggu (8/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah tersebut menjadi momen penting bagi para remaja untuk menampilkan hasil eksplorasi visual yang mereka kerjakan selama enam hari proses belajar intensif.
Kegiatan yang digelar sejak pukul 17.00 hingga 20.00 WIB itu tidak hanya menjadi ajang presentasi karya, tetapi juga mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam proses belajar tersebut.
Remaja peserta program hadir bersama warga sekitar Korong Kasai, orang tua, tamu undangan, serta rekan-rekan komunitas yang selama ini terhubung dengan kegiatan seni yang digagas Komunitas Seni Nan Tumpah.
Pada malam penutupan tersebut, para peserta mempresentasikan karya video kolase yang mereka hasilkan selama mengikuti program Kelana Gambar Bergerak.
Seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok, dan masing-masing kelompok menghasilkan satu karya video dengan durasi maksimal dua menit.
Tiga video tersebut merupakan hasil eksplorasi visual yang mereka bangun melalui berbagai tahapan pembelajaran. Mulai dari pengenalan konsep dasar visual, proses pengambilan gambar, hingga penyusunan cerita sederhana yang berangkat dari pengalaman mereka terhadap lingkungan sekitar.
Selain menampilkan karya peserta, kegiatan puncak Kelana Gambar Bergerak juga menghadirkan pemutaran karya gambar bergerak dari Mardi Al Anhar yang akrab disapa Da Al.
Beberapa karya yang ditampilkan merupakan hasil proses kreatifnya selama menjalani residensi singkat di sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah, serta sejumlah karya yang pernah ia produksi sebelumnya.
Program Kelana Gambar Bergerak sendiri merupakan ruang belajar intensif selama enam hari yang diikuti oleh remaja dalam program Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan.
Kegiatan ini berlangsung sejak 3 hingga 8 Maret 2026 dan dirancang untuk memperkenalkan gambar bergerak sebagai medium dalam praktik seni visual sekaligus sebagai cara membaca diri serta lingkungan sekitar.
Selama mengikuti program tersebut, para peserta diajak memahami berbagai dasar penting dalam produksi gambar bergerak.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan visual dasar, sejarah gambar bergerak, praktik nirmana garis, fotografi dasar, hingga proses produksi video pendek secara berkelompok.
Proses belajar berlangsung setiap sore mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Metode pembelajaran yang digunakan memadukan ceramah sinema, pemutaran karya referensi, praktik visual manual, diskusi kelompok, serta evaluasi bersama terhadap hasil kerja peserta.
Mardi Al Anhar dari kolektif KamartKost.ch yang menjadi kawan belajar dalam kegiatan ini menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari kedekatan remaja dengan teknologi digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Perkembangan zaman membuat teknologi menjadi bagian dari keseharian masyarakat, termasuk remaja. Kamera menjadi titik awal yang melatarbelakangi proyek ini,” ujarnya, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, melalui kegiatan ini para remaja diajak melihat smartphone dari sudut pandang yang berbeda.
Perangkat yang biasanya digunakan untuk hiburan kini dipahami sebagai medium untuk memproduksi karya serta menyampaikan cerita mengenai lingkungan tempat mereka hidup.
Selama lima hari pelaksanaan program, peserta menjalani berbagai tahapan pembelajaran yang dirancang secara bertahap.
Pada hari pertama, mereka diperkenalkan pada sejarah serta dasar-dasar gambar bergerak. Di tahap ini, peserta juga membuat latihan nirmana garis sebagai cara memahami dasar visual.
Pada hari kedua, kegiatan berlanjut dengan praktik membuat gambar bergerak sederhana yang disusun dari rangkaian foto.
Selanjutnya, pada hari ketiga, peserta mempelajari teknik fotografi dasar sekaligus mulai menyusun konsep visual berdasarkan pengalaman mereka terhadap ruang dan lingkungan sekitar.
Memasuki hari keempat dan kelima, proses belajar berfokus pada produksi karya secara berkelompok. Peserta mulai menyusun ide, melakukan pengambilan gambar, hingga menjalani proses editing sederhana untuk merangkai visual yang telah mereka buat.
Tahapan tersebut kemudian disempurnakan pada hari terakhir sebelum karya dipresentasikan kepada publik dalam acara penutupan.
Pendamping kelas Kelana Akhir Pekan, Desvy Sagita R mengeklaim respons para peserta terhadap kegiatan ini cukup positif. Meski pada awalnya mereka sempat mengalami kesulitan memahami konsep gambar bergerak, perlahan mereka mulai memahami proses pembuatannya.
“Ketika peserta melihat hasil video yang dibuat dari puluhan foto yang digabungkan, mereka sangat takjub. Mereka tidak menyangka bahwa rangkaian gambar yang dibuat hampir dua jam hanya menjadi video berdurasi beberapa detik. Dari situ mereka mulai lebih menghargai proses pembuatan gambar bergerak,” katanya.
Salah satu peserta program, Nadya Sri Novita (15), mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Yang paling menarik adalah bisa membuat video gambar bergerak bersama teman-teman. Kami belajar mengambil gambar, menyusun cerita, dan mengedit video sehingga menjadi karya yang menarik,” katanya.
Manager Program Komunitas Seni Nan Tumpah, Fajry Chaniago, menjelaskan bahwa Kelana Gambar Bergerak merupakan bagian dari semester pendek dalam program Kelana Akhir Pekan yang dilaksanakan pada masa jeda pembelajaran rutin.
“Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar intensif bagi remaja untuk mengenal gambar bergerak sebagai salah satu medium dalam praktik seni visual. Melalui kolaborasi dengan Mardi Al Anhar dari KamartKost.ch, peserta tidak hanya belajar teknik dasar, tetapi juga diajak memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk berpikir, mengamati, dan bercerita,” ucapnya.
Ia berharap pemutaran karya tersebut dapat menjadi ruang pertemuan antara peserta, keluarga, serta masyarakat untuk melihat secara langsung bagaimana para remaja memaknai lingkungan mereka melalui karya visual yang mereka buat.
Melalui program Kelana Gambar Bergerak ini, Komunitas Seni Nan Tumpah kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga seni sebagai ruang tumbuh sekaligus ruang dialog yang berangkat dari pengalaman lokal.
Kegiatan ini juga membuka kemungkinan bahwa praktik seni visual dapat berkembang dari lingkungan kampung serta kehidupan sehari-hari masyarakat. (adl)















