Sumbardaily.com - Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27 Mei 2026, Guru Besar Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Dr. Alfurqan, mengingatkan masyarakat agar tidak memaknai ibadah kurban hanya sebatas penyembelihan hewan.
Menurutnya, qurban harus dipahami sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial sekaligus melepaskan diri dari kemelekatan terhadap urusan duniawi.
Pandangan tersebut disampaikan Prof Alfurqan dalam kegiatan “Kata Pakar” yang digagas Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis Universitas Negeri Padang di Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan UNP, Kamis (21/5/2026).
Dalam diskusi bersama wartawan itu, Prof Alfurqan menilai tantangan masyarakat modern saat ini bukan lagi memahami kisah qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada bagaimana nilai pengorbanan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Persoalan kita hari ini adalah kemelekatan. Ketika harta, jabatan, atau kekuasaan sudah terlalu melekat dalam diri seseorang, maka rasa peduli kepada orang lain menjadi sulit tumbuh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, semangat qurban sejatinya tidak hanya berhenti pada ritual penyembelihan sapi atau kambing saat Idul Adha. Lebih dari itu, qurban merupakan simbol kepatuhan kepada Tuhan sekaligus kesediaan berbagi kepada sesama manusia.
Prof Alfurqan menegaskan bahwa nilai pengorbanan dalam qurban dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kepedulian sosial. Mulai dari membantu masyarakat yang membutuhkan, mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama, hingga memberikan perhatian kepada lingkungan sekitar.
“Qurban hewan adalah bentuk ibadah khusus, sedangkan pengorbanan adalah nilai besar yang harus hidup sebelum, saat, dan sesudah penyembelihan itu dilakukan. Maka orang yang berqurban seharusnya tidak hanya membagi daging, tetapi juga belajar membagi hati, rezeki, kuasa, kenyamanan, dan kepentingan dirinya untuk kemaslahatan yang lebih luas,” katanya.
Selain menyoroti esensi qurban, Prof Alfurqan juga mengkritisi fenomena masyarakat yang kerap terjebak dalam perdebatan fiqih tanpa memahami substansi ajaran qurban itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa dalam persoalan fiqih terdapat banyak penafsiran dan perbedaan pendapat yang semestinya tidak menjadi sumber konflik di tengah masyarakat.
“Kita sering merasa pendapat kelompok kita yang paling benar. Padahal para ulama besar mazhab saja tidak pernah saling menyalahkan. Yang penting adalah memahami dasar dan substansi ajarannya,” ujarnya.
Menurutnya, semangat qurban juga harus diarahkan untuk memperkuat solidaritas sosial, terutama kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan. Ia menilai distribusi daging qurban sebaiknya lebih memprioritaskan wilayah terdampak bencana maupun daerah dengan keterbatasan pangan.
Prof Alfurqan menegaskan bahwa dalam ajaran Islam tidak terdapat larangan mendistribusikan daging qurban ke daerah lain selama tujuannya memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Esensi qurban itu bagaimana manfaatnya bisa dirasakan orang lain, terutama yang membutuhkan. Jadi dalam konteks kebencanaan atau daerah dengan distribusi makanan terbatas, itu justru sangat relevan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Alfurqan turut menyoroti perubahan sosial di tengah masyarakat modern yang dinilainya semakin individualistis. Menurut dia, semangat pengorbanan dan kontrol sosial di lingkungan masyarakat perlahan mulai melemah karena banyak orang lebih fokus pada kepentingannya masing-masing.
“Sekarang orang cenderung sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal pengorbanan itu juga bisa berupa waktu, tenaga, pikiran, bahkan keberanian untuk peduli terhadap lingkungan sekitar,” katanya.
Ia menambahkan, makna pengorbanan sebenarnya sangat luas dan tidak terbatas pada penyembelihan hewan qurban semata. Membantu sesama melalui tenaga, pemikiran, nasihat, maupun kepedulian sosial juga merupakan bagian dari nilai pengorbanan yang perlu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pengorbanan itu maknanya luas. Membantu orang dengan tenaga, pemikiran, nasihat, atau kepedulian sosial juga bagian dari pengorbanan,” imbuhnya.
Tak hanya berbicara mengenai nilai sosial dan spiritual qurban, Prof Alfurqan juga mendorong adanya digitalisasi dalam pengelolaan serta pendistribusian qurban agar lebih tertata dan tepat sasaran.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat membantu panitia qurban mendata penerima secara lebih jelas dan transparan, termasuk melalui sistem barcode maupun konsep by name by address.
“Ke depan, distribusi qurban bisa memanfaatkan teknologi digital. Misalnya data penerima dibuat lebih jelas, menggunakan barcode atau sistem by name by address sehingga pembagian lebih tertib dan tepat sasaran,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menilai penggunaan teknologi dapat mendukung sistem distribusi qurban yang lebih ramah lingkungan dan efisien. Hal tersebut berkaitan dengan penggunaan plastik pembungkus daging qurban yang selama ini kerap menimbulkan persoalan sampah lingkungan.
Karena itu, Prof Alfurqan mendorong pengurus masjid dan panitia qurban mulai memikirkan alternatif pengurangan sampah plastik melalui konsep green ecology. Salah satu langkah yang dapat dilakukan yakni mengajak masyarakat membawa wadah sendiri saat pengambilan daging qurban.
Menurutnya, pola tersebut tidak hanya membantu mengurangi limbah plastik, tetapi juga dinilai mampu mengurangi antrean panjang di masjid maupun mushala saat proses pembagian daging qurban berlangsung. (*)
















