Heboh! Satwa Langka Kelinci Belang Sumatera Ditemukan di Gunung Tandikek

Heboh! Satwa Langka Kelinci Belang Sumatera Ditemukan di Gunung Tandikek

Tim Riset Keanekaragaman Hayati Sumatera dari Fakultas Biologi UNP berhasil merekam keberadaan Kelinci Belang Sumatera yang langka dan endemik di kawasan Gunung Tandikek. (Foto: Istimewa)

Sumbardaily.com, Tanah Datar – Hutan Gunung Tandikek di kawasan Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, kembali mengungkap kekayaan hayati yang luar biasa. Kali ini, tim Departemen Biologi Universitas Negeri Padang (UNP) berhasil menemukan Kelinci Belang Sumatera (Nesolagus netscheri), satwa endemik yang sangat langka dan dilindungi. Penemuan ini menjadi titik tolak penting dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati di Sumatera Barat (Sumbar).

Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi dunia akademik dalam melestarikan satwa langka tersebut. Dalam acara Pengabdian Masyarakat Departemen Biologi UNP yang digelar di Aula SMP Negeri 3 X Koto, baru-baru ini, ia menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada UNP atas temuannya yang sangat berharga ini. Kelinci Belang Sumatera merupakan spesies langka dengan habitat alami di hutan vulkanik seperti Gunung Tandikek. Penemuan ini memperkaya data keanekaragaman hayati kita dan membuka peluang lebih luas untuk konservasi,” ujar Fadly.

Ia menambahkan bahwa konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, dukungan dari masyarakat lokal sangat diperlukan dalam menjaga keberlangsungan hidup satwa tersebut.

“Kami siap mendukung UNP dan Lembaga Riset Keanekaragaman Hayati Sumatera untuk upaya pelestarian lingkungan dan keberlangsungan spesies langka seperti kelinci belang ini,” kata Fadly.

Konservasi Melalui Alek Konservasi

Wakil Dekan FMIPA UNP, Prof Yuni Ahda, menjelaskan bahwa penemuan kelinci belang tersebut menjadi bagian dari riset jangka panjang yang dilakukan oleh mahasiswa Biologi UNP. Penelitian ini dilanjutkan dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program bertajuk Alek Konservasi yang dilaksanakan bersama pemerintahan Nagari Singgalang.

“Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem hutan dan satwa langka. Sinergi seperti ini sangat penting agar hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi memberi dampak langsung bagi masyarakat,” ujar Yuni Ahda.

Ketua tim pengabdian mahasiswa Biologi UNP, Reki Kardiman, menyampaikan bahwa kegiatan konservasi tidak hanya melibatkan penelitian lapangan, tetapi juga edukasi publik. Sosialisasi dilakukan di sekolah-sekolah, kelompok masyarakat, serta melalui kolaborasi dengan Walinagari dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.

“Berkat dukungan dari pemerintah daerah, nagari, tokoh masyarakat, dan masyarakat luas, kegiatan konservasi ini bisa berjalan lancar. Harapan kami, kelinci belang yang sudah ditemukan ini dapat dijaga dan tidak punah,” kata Reki.

Apresiasi dari Nagari dan Pemerintah Daerah

Walinagari Singgalang, Seri Mesra, turut menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa UNP yang telah melakukan penelitian dan pengabdian di wilayahnya. Ia berharap kegiatan ini berlanjut dan membawa manfaat besar bagi pelestarian satwa liar serta peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat setempat.

“Ini adalah kebanggaan bagi kami. Dengan temuan kelinci belang, kami jadi semakin sadar bahwa kawasan kami menyimpan kekayaan alam yang luar biasa dan perlu dijaga bersama,” ujar Seri Mesra.

Perlunya Langkah Lanjut

Penemuan Nesolagus netscheri di kawasan Nagari Singgalang ini mempertegas pentingnya perlindungan terhadap habitat-habitat alami yang semakin terancam oleh aktivitas manusia. Meski statusnya dilindungi, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan dan peran ekologis dari kelinci belang tersebut.

Melalui kegiatan seperti Alek Konservasi, UNP mencoba menjembatani dunia akademik dan komunitas lokal untuk membangun pemahaman bersama tentang pentingnya konservasi. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan model pelestarian satwa liar yang partisipatif dan berkelanjutan.

Dengan kolaborasi lintas sektor yang telah terjalin, Kabupaten Tanah Datar berpotensi menjadi salah satu wilayah konservasi unggulan di Sumatera Barat. Penemuan ini diharapkan menjadi awal dari berbagai penelitian dan inisiatif pelestarian lainnya di masa mendatang. (red)

Baca Juga

Inovasi Pengolahan Sampah Plastik Jadi Solar Dukung Energi Darurat di Agam
Inovasi Pengolahan Sampah Plastik Jadi Solar Dukung Energi Darurat di Agam
Deretan Rumah dan Toko Ludes Terbakar di Air Tawar Padang, Kerugian Capai Rp1 Miliar
Deretan Rumah dan Toko Ludes Terbakar di Air Tawar Padang, Kerugian Capai Rp1 Miliar
Pemprov Sumbar Perkuat Regulasi Rehab-Rekon Pascabencana, APBD Terbatas Jadi Tantangan
Pemprov Sumbar Perkuat Regulasi Rehab-Rekon Pascabencana, APBD Terbatas Jadi Tantangan
UNP Paparkan Data Pilu, Satu Mahasiswa Meninggal Dunia Imbas Banjir Bandang Sumbar
UNP Paparkan Data Pilu, Satu Mahasiswa Meninggal Dunia Imbas Banjir Bandang Sumbar
Ribuan Mahasiswa UNP Antusias Belajar Industri Sepak Bola
Ribuan Mahasiswa UNP Antusias Belajar Industri Sepak Bola
Kementerian Kebudayaan Luncurkan MTN Sastra, Sumbar Jadi Titik Awal
Kementerian Kebudayaan Luncurkan MTN Sastra, Sumbar Jadi Titik Awal