Faktor Ekonomi, Perumahan, dan Pengasuhan Hambat Keputusan Punya Anak

Faktor Ekonomi, Perumahan, dan Pengasuhan Hambat Keputusan Punya Anak

Potret Keluarga (Foto: Unsplash)

Sumbardaily.com – Tren menurunnya keinginan untuk memiliki anak menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia. Jika sebelumnya anak dianggap sebagai anugerah sekaligus simbol kebahagiaan rumah tangga, kini semakin banyak pasangan, terutama dari kalangan muda, yang memilih untuk menunda atau bahkan meniadakan rencana memiliki keturunan.

Perubahan ini mencerminkan bergesernya norma sosial dan munculnya tantangan-tantangan baru yang dihadapi generasi muda saat ini. Salah satu faktor paling dominan yang menyebabkan keengganan memiliki anak adalah masalah ekonomi.

Survei yang dilakukan oleh Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) bersama lembaga riset YouGov menunjukkan bahwa 39 persen pasangan di Indonesia menyebut kendala finansial sebagai alasan utama dalam pengambilan keputusan terkait memiliki anak. Survei ini dilakukan terhadap 14.000 responden di 14 negara, termasuk Indonesia, Korea Selatan, Thailand, Italia, Jerman, Amerika Serikat, hingga Afrika Selatan.

Secara global, hasil serupa juga terlihat. Dari total 10.000 responden yang sudah atau berencana memiliki anak, sebanyak 39 persen mengakui bahwa keterbatasan ekonomi membuat mereka memiliki anak lebih sedikit dari rencana awal.

Di Indonesia, faktor finansial ini mencakup tingginya biaya hidup, mulai dari kebutuhan dasar hingga biaya pendidikan dan kesehatan anak. Banyak pasangan muda merasa belum memiliki kestabilan ekonomi untuk mengasuh anak, yang membuat mereka menunda hingga waktu yang dianggap lebih memungkinkan.

Masalah keterjangkauan tempat tinggal juga menjadi faktor penting. Harga rumah yang terus melambung, keterbatasan ruang hunian, hingga tingginya tarif sewa membuat pasangan sulit merencanakan ruang yang layak untuk membesarkan anak. Di kota-kota besar, hal ini menjadi hambatan nyata bagi pasangan muda yang hidup di ruang terbatas.

Selain itu, ketidakpastian pekerjaan dan tingginya angka pengangguran turut memperkuat alasan untuk menunda kehamilan. Pasangan yang bergantung pada dua sumber penghasilan juga menghadapi kendala dalam menemukan layanan pengasuhan anak yang layak. Kurangnya fasilitas penitipan anak yang berkualitas dan terjangkau di Indonesia menjadi masalah yang belum terselesaikan.

"Banyak orang tua muda terpaksa menunda punya anak karena tak ada sistem dukungan yang kuat, terutama dalam hal childcare. Mereka butuh tempat yang aman dan terpercaya untuk menitipkan anak saat bekerja," demikian terang temuan survei.

Faktor lain yang juga turut memengaruhi keputusan pasangan dalam memiliki anak adalah persoalan kesehatan. Di Indonesia, 10 persen responden mengaku menunda atau mengurangi jumlah anak karena kondisi kesehatan pribadi. Sementara itu, 9 persen menyatakan kualitas layanan kesehatan selama kehamilan yang belum memadai menjadi alasan utama, dan 6 persen menyebut masalah infertilitas atau kesulitan dalam proses melahirkan sebagai kendala.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan untuk memiliki anak bukan lagi hanya soal kesiapan mental atau keinginan pribadi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi struktural dan sistemik yang kompleks.

UNFPA menekankan pentingnya pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung keluarga muda, termasuk memperbaiki layanan kesehatan reproduksi, memberikan akses terhadap perumahan yang layak, serta menyediakan fasilitas pengasuhan anak yang terjangkau dan bermutu.

Jika tidak segera direspons, tren penurunan angka kelahiran ini bisa berdampak pada komposisi penduduk ke depan, termasuk potensi krisis demografi dalam beberapa dekade mendatang. (pooke)

Baca Juga

Inalum Bangun Ulang SDN 49 Batang Kabung Padang yang Hancur Diterjang Banjir Bandang
Inalum Bangun Ulang SDN 49 Batang Kabung Padang yang Hancur Diterjang Banjir Bandang
Bukan Sekadar Bubuk Abu-abu, Ini Sains dan Teknologi di Balik Semen Modern
Bukan Sekadar Bubuk Abu-abu, Ini Sains dan Teknologi di Balik Semen Modern
Kejati Sumbar Jadikan Sekolah Basis Penguatan Kesadaran Hukum Generasi Muda
Kejati Sumbar Jadikan Sekolah Basis Penguatan Kesadaran Hukum Generasi Muda
Meriam Tua di Indarung: Jejak Sunyi Perang dan Ingatan Sejarah di Padang
Meriam Tua di Indarung: Jejak Sunyi Perang dan Ingatan Sejarah di Padang
Tips Mudah Beli eSIM Telkomsel di BRKS Mobile, Aktivasi Bisa Hitungan Menit
Tips Mudah Beli eSIM Telkomsel di BRKS Mobile, Aktivasi Bisa Hitungan Menit
Usai Tiongkok, Padang Perkuat Pertukaran Pelajar dengan Finlandia
Usai Tiongkok, Padang Perkuat Pertukaran Pelajar dengan Finlandia