Damkar Padang Jelaskan Penyebab Kebakaran Tetap Terjadi Meski Hujan dan Cuaca Ekstrem

Damkar Padang Jelaskan Penyebab Kebakaran Tetap Terjadi Meski Hujan dan Cuaca Ekstrem

Ilustrasi Kebakaran (Foto: Freepik)

Sumbardaily.com, Padang - Di tengah derasnya hujan dan cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, kebakaran justru masih muncul sebagai ancaman serius di Kota Padang. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat, mengapa kebakaran tetap terjadi saat cuaca basah dan hujan lebat?

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang, Budi Payan, menegaskan bahwa kondisi hujan tidak otomatis mengurangi potensi kebakaran. Justru, cuaca ekstrem bisa menjadi pemicu baru melalui berbagai mekanisme, baik yang bersumber dari alam maupun kelalaian manusia.

“Hujan bukan jaminan potensi kebakaran menurun. Cuaca ekstrem bisa memicu korsleting, terutama jika instalasi listrik kontak dengan air akibat atap bocor atau rembesan,” kata Budi Payan kepada Sumbardaily.com, Senin (24/11/2025) sore.

Ia menjelaskan, pemicu kebakaran di musim hujan dapat beragam. Salah satunya berasal dari pohon tumbang yang memutus aliran listrik hingga menyebabkan lonjakan arus atau korsleting pada bangunan terdekat.

Selain itu, perilaku masyarakat seperti membuang puntung rokok sembarangan juga tetap berperan sebagai penyebab non-alam.

Karena itu, meski musim hujan identik dengan banjir, longsor, dan cuaca ekstrem, ancaman kebakaran tidak boleh diabaikan.

“Kami terus mengimbau warga agar tetap waspada terhadap risiko kebakaran meskipun hujan deras,” katanya.

Instruksi kesiapsiagaan ini juga ditegaskan melalui arahan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang, Andree Harmadi Algamar, agar seluruh jajaran Damkar tetap siaga tanpa mengendurkan pengawasan.

Siaga 24 Jam

Kondisi ini tergambar pada peristiwa kebakaran terbaru yang terjadi pada Senin (24/11/2025) di Jalan Alang Laweh 1, Kecamatan Padang Selatan.

Satu rumah kontrakan yang terdiri dari empat petak terbakar meski wilayah tersebut sedang berada dalam periode cuaca basah ekstrem.

Laporan pertama diterima pukul 14.30 WIB, dan armada pemadam tiba hanya lima menit kemudian. Api berhasil dipadamkan total pada pukul 15.12 WIB.

“Tantangan kami adalah lokasi bangunan yang padat dan kemungkinan merambat ke bangunan lain,” kata Budi.

Dalam kejadian itu, kerugian ditaksir mencapai Rp400 juta, sementara nilai aset terselamatkan diperkirakan lebih dari Rp1,5 miliar. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian yang berdampak pada 12 KK atau total 40 warga.

Sebanyak 75 personel dan lima armada dikerahkan, dibantu TNI, Polri, dan pemerintah kelurahan setempat.

Sementara itu, Kabid Operasional dan Sarana Prasarana Damkar Padang, Rinaldi menegaskan, seluruh personel telah disiagakan tanpa jeda selama cuaca ekstrem.

“Tidak ada waktu bersantai. Semua personel siap menghadapi kejadian yang berpotensi membahayakan masyarakat, termasuk kebakaran,” ujarnya.

Meski hujan terkadang membantu proses pendinginan area terbakar, Rinaldi menilai pencegahan tetap jauh lebih penting.

Dinas Damkar mengajak masyarakat memastikan kompor dimatikan, instalasi listrik terproteksi dari rembesan air, serta menghubungi layanan darurat 112 atau 113 jika menemukan potensi bahaya.

“Cuaca ekstrem butuh kewaspadaan berlapis, bukan hanya dari banjir dan longsor, tapi juga kebakaran,” kata pria yang akrab disapa Abi tersebut.

Dinamika Atmosfer

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Minangkabau mencatat saat ini Sumatera Barat (Sumbar) berada dalam pengaruh kuat Monsun Asia.

Kondisi ini diperkirakan berlangsung pada 21 hingga 27 November 2025 dan menjadi penyebab utama meningkatnya hujan deras serta fenomena cuaca ekstrem di sejumlah kawasan Sumbar belakangan ini.

Monsun Asia atau angin muson adalah pola angin musiman yang bergerak dari wilayah daratan benua Asia menuju Samudra Hindia ketika memasuki musim basah.

Pada fase menguat seperti saat ini, monsun membawa suplai udara lembap dalam jumlah signifikan dari Samudra Hindia ke Indonesia, termasuk Sumatera Barat.

Ketika masa udara yang kaya uap air ini bertemu dengan topografi Bukit Barisan, terjadi proses pengangkatan udara (orographic lifting) yang memicu pembentukan awan hujan dengan intensitas tinggi.

Menurut BMKG Minangkabau, fenomena ini semakin diperkuat oleh kondisi atmosfer global yang terjadi bersamaan. Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial, dan anomali suhu muka laut yang hangat menciptakan lingkungan atmosfer yang sangat mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Kombinasi faktor tersebut memperbesar peluang terjadinya hujan lebat, petir, angin kencang, hingga kejadian hidrometeorologi ekstrem.

Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan mengatakan, dinamika atmosfer ini bukan sekadar variasi cuaca harian, melainkan pola musim yang memengaruhi kawasan dalam skala luas.

Kondisi tersebut berkaitan dengan cuaca buruk yang terjadi belakangan ini di Sumatera Barat, termasuk hujan intens yang menyebabkan genangan, banjir lokal, dan jalan licin di beberapa titik.

“Peluang bencana hidrometeorologi meningkat seiring peningkatan pertumbuhan awan hujan. Potensi kejadian seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, serta petir perlu diwaspadai," katanya, Jumat (21/11/2025).

BMKG, katanya, menetapkan sejumlah wilayah sebagai area dengan risiko tinggi, yaitu Padang Pariaman, Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, Sijunjung, Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Solok, Dharmasraya, Solok Selatan, dan Limapuluh Kota.

"Karakteristik geografis seperti lereng terjal, aliran sungai berhulu di pegunungan, dan daerah pesisir meningkatkan kerentanan saat intensitas hujan meningkat," kata Desindra.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama warga yang tinggal di dekat sungai, perbukitan, dan pesisir.

"Pembaruan informasi cuaca sebelum bepergian dinilai penting untuk mengurangi risiko, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, warga diminta menghindari lokasi rawan saat hujan berlangsung lama dan deras," imbuhnya.

Informasi cuaca dan peringatan dini Sumatera Barat dapat diakses melalui akun resmi Instagram @bmkgminangkabau, aplikasi InfoBMKG di Android dan iOS, atau layanan WhatsApp di nomor 0812-6812-5907. (adl)

Baca Juga

Kebakaran di Padang Tembus 100 Kasus hingga April 2026, Ini Penyebab Terbanyak
Kebakaran di Padang Tembus 100 Kasus hingga April 2026, Ini Penyebab Terbanyak
Petugas BPBD Kota Padang bersama tim gabungan mengevakuasi pohon Marapalam tumbang yang menutup Jalan Raya Padang-Painan di kawasan Gates saat hujan deras dan angin kencang.
Arus Lalu Lintas Sempat Lumpuh, Pohon Raksasa yang Tumbang di Jalur Padang-Painan Dievakuasi
Sebanyak lima unit armada dan 60 personel Damkar Kota Padang dikerahkan untuk memadamkan kebakaran gudang penyimpanan kayu di Jalan M Yunus belakang Budiman, Kelurahan Anduring, Kecamatan Kuranji, Kamis (14/5/2026) malam.
Gudang Kayu dan Barang Bekas di Padang Terbakar, Api Nyaris Serempet Dua Bangunan Lainnya
Padang Pariaman Percepat Pemulihan Pertanian, Tanam Serentak Digelar di Tanah Taban
Padang Pariaman Percepat Pemulihan Pertanian, Tanam Serentak Digelar di Tanah Taban
Pemprov Sumbar Klaim Rehabilitasi Lahan Pertanian Rusak Capai 100 Persen
Pemprov Sumbar Klaim Rehabilitasi Lahan Pertanian Rusak Capai 100 Persen
Kondisi Armada hingga Petugas Dicek, Posko Damkar Kota Solok Disidak
Kondisi Armada hingga Petugas Dicek, Posko Damkar Kota Solok Disidak